Aliansi Jurnalis Independen


Otomatis Gugur Keanggotaan PWI dari 13 Wartawan
March 18, 1995, 10:56 am
Filed under: Berita

KOMPAS – Sabtu, 18 Mar 1995

Jakarta, Kompas
     PWI Jaya mengumumkan status keanggotaan 13 wartawan anggota PWI Jaya yang ikut menandatangani Deklarasi Sirnagalih 7 Agustus 1994  secara otomatis gugur. Karena Deklarasi Sirnagalih tidak mengakui PWI sebagai satu-satunya  organisasi profesi  wartawan, maka keanggotaan PWI para penandatangannya otomatis gugur. Ia juga meminta semua pemimpin redaksi untuk tidak mempekerjakan sebagai wartawan
terhadap mereka yang menandatangani Deklarasi Sirnagalih tersebut. 
Keputusan PWI Jaya tersebut diumumkan oleh Ketua PWI Jaya Tarman Azzam yang mendadak mengadakan konferensi pers Jumat (17/3) sore. “Keputusan ini diambil oleh delapan dari sembilan pengurus PWI karena seorang berhalangan hadir,” kata Tarman.Deklarasi yang ditandatangani 58 wartawan dan aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Sirnagalih, Jawa Barat itu, antara lain  menolak wadah tunggal profesi kewartawanan.      

Menurut Tarman yang didampingi Wakil Sekretaris Marah Sakti Siregar  yang juga Pemimpin Redaksi majalah Tiras, sebelumnya secara persuasif PWI Jaya sudah memberi kesempatan kepada para penandatangan itu untuk memulihkan status keanggotaannya, termasuk memanggil sejumlah pemimpin redaksinya. “Namun ternyata setelah enam
bulan tidak ada perubahan,” kata Tarman yang juga Pemimpin Redaksi Harian Terbit.  Pengurus PWI Jaya mengamati tindakan atau kegiatan mereka, di antaranya menerbitkan penerbitan tidak ber-SIUPP dapat mencemarkan nama baik wartawan, khususnya korps PWI.

PWI Jaya meminta PWI Pusat untuk mengukuhkan keputusannya. “Kepada semua pemimpin redaksi diminta untuk tidak mempekerjakan sebagai wartawan terhadap mereka yang menandatangani Deklarasi Sirnagalih, tanggal 7 Agustus 1994,” demikian keputusan PWI Jaya.          

Ketua PWI Jaya membantah jika pengumuman pencabutan keanggotaan 13 anggota PWI Jaya itu ada hubungannya dengan penangkapan sejumlah aktivis AJI. “Tidak ada hubungannya. Jangan bawa-bawa AJI nanti mereka malah merasa besar,” kata Tarman. Ketua PWI Jaya juga memperlihatkan fotokopian sejumlah majalah Independen yang
diterbitkan oleh AJI. Ketiga belas wartawan yang dicabut keanggotaannya oleh PWI Jaya tersebut adalah Happy Sulistiani, Ardian T Gesuri, Diah Purnomowati, Goenawan Mohamad, Fikri Jufri, Budiman S Hartoyo, Toriq Hadad, Yopie Hidayat, Moebanoe Moera semuanya dari Tempo, Eros Djarot (DeTIK), Hasudungan Sirait (Bisnis Indonesia), Satrio Arismunandar (Kompas) serta Yoseph Adiprasetyo (Jakarta-Jakarta).

                                  
Polda akui penahanan

     Sementara itu Polda Metro Jaya mengakui telah menahan lima wartawan buletin Independen, yang “diambil” dalam acara halalbihalal AJI, Kamis malam (16/3) di Hotel Wisata, Jakarta Pusat. Kepala Direktorat Reserse Polda Metro Jaya, Kolonel (Pol) Nurfauzi, Jumat (17/3) mengatakan, kelima wartawan itu, AT, Da, EM, JS, dan AH,
ditahan sehubungan dengan kasus penerbitan buletin yang tak memiliki SIUPP (Surat Izin Penerbitan Pers).

Nurfauzi menambahkan, Polda Metro Jaya tengah mengusut apakah isi buletin itu menghina, memfitnah, mencemarkan nama baik dan menyatakan permusuhan dengan Pemerintah Indonesia, berkaitan dengan pasal 154 KUHP. Ancaman hukuman untuk itu, ungkap Nurfauzi, maksimal 7 tahun.
“Kami mendapat laporan bahwa buletin Independen terbit tanpa memiliki izin atau SIUPP. Sebagai aparat keamanan kami berhak melakukan tindakan penangkapan kepada penanggung jawab serta para wartawannya untuk diperiksa. Dan isi buletin itu akan kita kaji, jadi kami masih memerlukan untuk menahan kelima wartawan itu,” ucap Nurfauzi, didampingi Kadispen Polda Metro Jaya, Letkol (Pol) Bambang Haryoko.

Tentang keterlibatan Sri Bintang Pamungkas, Nurfauzi mengingatkan, dia sempat berada di Polda Metro Jaya bukan karena ditangkap, tapi karena permintaan sendiri untuk ikut mendampingi kelima wartawan itu ketika dibawa pukul 21.00 WIB. Namun sekitar
pukul 24.00 WIB, lanjutnya, Bintang pulang meninggalkan Polda. Acara halalbihalal AJI tersebut, ungkap Nurfauzi, sama sekali tak memiliki izin keramaian, sehingga menyalahi ketentuan.
                                       
Tanpa penjelasan
     Sementara itu Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Luhut MP Pangaribuan, yang didampingi anggota DPR Sri Bintang Pamungkas, kepada wartawan, hari Jumat (17/3) menjelaskan, proses penangkapan terhadap dua orang wartawan yaitu Ahmad Taufik  dan Liston P Siregar (mantan wartawan Tempo) yang tergabung dalam
AJI), Danang (staf rumah tangga AJI), Fitri (wartawan Kampus), di Hotel Wisata Internasional hari Kamis malam, sangat tidak sesuai dengan KUHAP dan Undang-Undang Pokok Kepolisian.
 

Dalam suratnya yang ditujukan kepada Kapolri Jenderal (Pol) Banurusman, Pangaribuan menyebutkan, kelima orang itu ditangkap tanpa ada penjelasan apa pun kecuali diminta agar ikut petugas. (ush/bar/myr)


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: