Aliansi Jurnalis Independen


Penangkapan Wartawan dan Aktivis AJI
March 24, 1995, 3:53 pm
Filed under: Laporan

PENANGKAPAN SEJUMLAH WARTAWAN DAN AKTIVIS AJI:
SEBUAH UPAYA MELIBAS ORGANISASI PROFESI WARTAWAN ALTERNATIF
Jumat, 24 Maret 1995

(Dimulai dengan aksi aparat keamanan  seusai acara halal-bihalal AJI)

Identifikasi kejadian:
Terjadi penangkapan wartawan, anggota DPR dan mahasiswa oleh  sejumlah aparat yang tak jelas identitasnya (mengaku dari Polda di depan pintu utama Hotel Wisata Internasional Jl. MH Thamrin sekitar pk 21.05 Kamis, 16 Maret 1995. Sekitar 20 petugas berpakaian preman memaksa masuk 3 orang peserta dan panitia halal bihalan AJI ke dalam sebuah mobil Honda Accord warna hitam bernomer polisi B 1853 PE dan 2 lainnya ke mobil Kijang (berplat hitam, no pol tak teridentifikasi).

Pada tengah malam 3 orang yang ditelantarkan di Polda meninggalkan halaman POLDA. Pada pk 04.00 Jumat, 17 Maret 1995, salah seorang di antaranya ditangkap dan dibawa ke Polda kembali di rumah kediamannya.

Identifikasi orang yang dibawa pada Kamis, 16 Maret 1995:
Total berjumlah 5 orang, yaitu:
1. Ahmad Taufik, 28, eks wartawan TEMPO, Ketua Presidium
Aliansi Jurnalis Independen (AJI).
2. Liston P Siregar, 32, eks wartawan TEMPO, anggota AJI.
3. Danang, 19, staf rumah tangga di sekretariat AJI.
4. Sri Bintang Pamungkas, Dosen FT UI, anggota DPR RI dari
Fraksi PPP.
5. Fitri, mahasiswi IISIP Jakarta.

Identifikasi orang yang masih ditahan hingga pk 20.00, Jumat, 24
Maret 1995
1. Ahmad Taufik, 28.
2. Danang, 19.
3. Eko Maryadi, 27, wartawan AJI.

Kronologi Lengkap:
Awal Februari 1995 beredar desas-desus bahwa pemerintah cq.
Menpen Harmoko berniat memotong sejumlah penerbitan alternatif.
Majalah Independen dan AJI disebut-sebut sebagai sasaran tembak
utama.
Pada rapat Polkam Februari 1995 yang bersifat tertutup,
selain dibahas mahasalh Insiden Liquisa, juga dibahas masalah AJI
dan Independen. Kabarnya, Menko Polkam telah mengeluarkan dispo-
sisi untuk “menertibkan” AJI.
Di tengah berbagai desas-desus, para wartawan anggota AJI
tetap bekerja seperti biasa layaknya anggota sebuah organisasi
profesi. Salah satu kegiatan yang dipilih adalah menyelenggarakan
acara halal-bihalal. Acara ditetapkan akan berlangsung pada 16
Maret 1995, dua minggu setelah lebaran dengan mengingat kesibukan
para anggota AJI dan kemungkinan terjadinya gelombang bakik yang
diperkirakan akan berlangsung seminggu setelah lebaran.

KAMIS, 16 MARET 1991 (Hari Pertama)
Pk. 18.00 wib
Beberapa aktivis AJI yang stand by sejak pk 16.00 di Ruang
Rebana Lt. II didatangi beberapa aparat keamanan berpakaian
preman. Mereka tak mau langsung menemui anggota AJI. Tapi mereka
bertanya kepada petugas Hotel. Dari informasi yang berhasil
dihimpun AJI, ternyata petugas yang tak diketahui asal
instansinya tersebut mencari Sekjen AJI, Santoso.

Pk. 18.15 wib
Meski acara halal-bihalal baru akan dibuka pukul 18.30,
sejumlah tama telah mulai berdatangan. Tercatat tamu pertama
adalah Sekretaris I dan Atase Labour Kedutaan Amerika Serikat
Thomas Murphy. Menyusul kemudian beberapa wakil negeri sahabat
antara lain Atase Pers Kedutaan Swiss Daniel Hunn dan Sekretaris
III Kedutaan Besar Australia, Indrawati Mc Cormick; Wakil
Kedutaan Besar Jepang dan Perwakilan Yayasan Ford, Merry S.
Zurbuchen.
Banyak di antara tamu AJI membeli buku-buku yang dijual AJI.
Antara lain Majalah Independen No 12 yang memang baru terbit.

Pk.18.30 wib
Acara dibuka protokoler AJI, Liston P. Siregar dengan
memberikan kesempatan pada Ketua Presidium AJI, Ahmad Taufik
untuk memberikan sambutan pada hadirin. Tampak diantara mereka
yang hadir adalah Marsilam Simanjuntak (intelektual), Rahman
Tolleng (intelektual), Adnan Buyung Nasution dan H.J. Princen
(pejuang HAM), Asmara Nababan (anggota Komnas HAM), Iwan Fals
(artis), Soebijakto (mantan Gubernur Lemhanas) dan beberapa tokoh
masyarakat lainnya. Termasuk, tentu saja, wartawan dalam dan luar
negeri. Jendral (purn) Rudini, Bambang Warih dan Abdulrahman
Wahid yang telah memberikan konfirmasi untuk datang ternyata
memberitahukan bahwa mereka berhalangan.
Selesai sambutan ketua presidium, acara dilanjutkan dengan
pidato Ali Sadikin. Dan kemudian dilanjutkan oleh anggota DPR
Sri Bintang Pamungkas dan penyair WS Rendra. Para orator
menyampaikan pidato tanpa teksnya dengan bersemangat disambut
tepuk tangan meriah oleh para hadirin.
Beberapa orang yang disinyalir intel memasuki ruangan.
Beberapa orang diantara mereka mencari-cari Sekjen AJI, Santoso.
Gagal mendapatkan Santoso, mereka mencari-cari koordinator
panitia penyelenggara. Juga gagal, karena keduanya keburu
meninggalkan acara untuk tugas jurnalistik yang datang mendadak.

Pk. 20.00 wib
Pidato berakhir. Protokoler halal-bihalal AJI, Liston P.
Siregar mempersilakan hadirin untuk mencicipi hidangan ala kadar-
nya yang telah tersedia. Sambil menikmati hidangan, hadirin
menggunakan kesempatan untuk saling bermaaf-maafan. Sedang para
wartawan menggunakan kesempatan tersebut untuk mewawancarai para
tokoh yang hadir.
Petugas intel mulai mencari-cari pengurus AJI secara
agresif. Seorang petugas dengan kameranya memotret setiap
kerumunan. Kemudian beberapa orang secara kasar mulai menarik-
narik Ahmad Taufik yang mereka kira bernama Santoso. Mereka
meminta agar seusai acara, Ahmad Taufik mengikutinya. Ketika
ditanya kemana, petugas hanya menjawab : “Pokoknya ikut kami
deh!, cuma untuk ditanyai kok!”.

Pk. 20.50 wib
Liston P. Siregar mengingatkan, bahwa pihak manajemen Hotel
Wisata hanya mengagihkan waktu hingga pukul 21.00. Ia kemudian
menutup acara Halal-bihalal AJI dengan menyatakan rasa terima-
kasihnya atas semua attensi yang diberikan kepada AJI. Hadirin
yang masih ingin berdiskusi dengan beberapa tokoh masyarakat
sepertinya enggan meninggalkan Ruangan Rebana di Lantai II Hotel
Wisata Internasional. Mereka masih mencoba bergerombol. Tapi,
akhirnya hadirin menuju ke pelataran hotel secara beramai-ramai.

Pk. 21.00 wib
Ruangan Rebana kosong, tinggal 2 wartawan dan Danang yang
membenahi semua sisa atribut AJI yang digunakan dalam acara
Halal-bihalal. Seorang staf hotel muncul dan menyatakan ingin
bertemu dengan seorang panitia untuk menyelesaikan masalah
keuangan. Danang segera memasuki lift dan turun mencari anggota
panitia tersebut. Karena Danang tak juga muncul kembali, 2
wartawan yang sedang menunggu segera menyusul turun.
Di pintu utama hotel ternyata sedang terjadi keributan.
Sekitar 20 petugas (yang tak jelas dari instansi mana) berupaya
menyeret Ahmad Taufik dan Liston P. Siregar untuk dimasukkan ke
sebuah sedan yang telah siap di halaman parkir. Ahmad Taufik dan
Liston P. Siregar menolak ajakan petugas. “Saya malam ini
deadline,” ujar Ahmad Taufik yang merupakan salah seorang tenaga
kontrak pada Media Indonesia.
“Sudahlah, sebentar saja! Kami tak akan mengganggu kok!.”
bujuk seorang petugas wanita. “Sekarang ibu sudah mengganggu
saya!” sergah Ahmad Taufik. Seorang wartawan mengusulkan agar
Ahmad Taufik memberikan kartu namanya kepada petugas dan meminta
petugas untuk datang ke kantor keesokan harinya. “Identitas dan
kantor mereka kan jelas! Tidak seperti kalian!”
Meski terus meningkatkan tekanannya, tampaknya petugas
berupaya menghindari sebuah keributan yang bisa mengundang
perhatian banyak orang. Mereka berupaya menutupi rekan-rekannya
yang tengah menarik-narik Taufik dan Liston.
Tarik-menarik makin seru. Suasana berkembang memanas setelah
beberapa petugas bertampang lusuh yang semula disinyalir cuma
seorang pesuruh hotel, ternyata ikut nimbrung dan secara kasar
langsung menarik-narik sejumlah wartawan.
Danang yang sedang membawa tas berisi sisa-sisa buku AJI
langsung dikeroyok petugas. Tas beserta isinya dirampas. Danang
segera dipegangi beberapa petugas yang berupaya menyeretnya
keluar. Namun jalan keluar melewati pintu utama hotel macet,
karena kerumunan manusia menyumbat mulut pintu keluar hotel.
Para wartawan mencoba menanyakan indentitas petugas. Tapi
petugas mengelak. “Kalian jangan kasar,” teriak seorang wartawan
yang tidak tahan melihat temannya ditarik-tarik. “Awas! Kalian
yang jangan kasar. Kami petugas!” ujar seorang petugas. “Kalau
memang betul petugas, tunjukan identitas kalian!” teriak balik
seorang wartawan. “Mana surat perintahnya?” sambung wartawan
lainnya. “Memangnya kamu provos?” tanya balik seorang intel
dengan nada kasar sambil mendorong-dorong.
Sri Bintang Pamungkas yang sedang diwawancarai para wartawan
dan hampir masuki mobil segera datang kembali mendekati
kerumunan. “Ada apa sih kok warga negara baik-baik diperlakukan
seperti ini. Siapa kalian ini? Sudahlah, biarkan mereka pulang
dan kembali bekerja. Buat apa kita ribut-ribut,” mohon Sri
Bintang. Petugas wanita yang mengaku dari Polda tampak mulai
melemah dan mengendorkan tekanannya. Tapi petugas yang lain
makin kuat mendorong dan menyeret sambil berteriak-teriak.
“Kalau Pak Bintang mau ikut sekalian boleh!” teriak seorang
petugas.

Pk. 21.05 wib
Secara paksa petugas berhasil menyeret Ahmad Taufik, Liston
P. Siregar dan Sri Bintang Pamungkas ke dalam sedan Honda Accord
B 1853 PE warna hitam yang datang mendekati undakan pintu utama
hotel. Sementara Danang diseret ke mobil kijang coklat (nomor
polisi tak teridentifikasi, berplat hitam). Para wartawan
berteriak-teriak histeris dan meminta Danang agar dilepaskan.
Beberapa wartawan mencoba mengikuti Danang. Petugas malah
menantang dan berteriak-teriak, “ayo siapa yang mau ikut? kami
akan bawa sekalian!”.
Fitri dipaksa masuk, sementara seorang wartawati yang
berupaya mencegah Danang memasuki mobil kijang diseret dua
petugas untuk ikut memasuki mobil. Wartawan yang melihat
kejadian ini segera datang menolong wartawati tersebut. Kejadian
berlangsung begitu cepat. Orang-orang terkesima. Mereka tak
habis berpikir bahwa ditengah suasana suci Rahmadhan dan acara
Halal Bihalal, petugas keamanan akan bertindak sekasar itu.
Mobil Kijang dan Honda Accord segera melaju menuju jalan raya.
“kemana ?” tanya wartawan. “Ke Polda !” jawab petugas setengah
tak acuh.
Beberapa wartawan AJI segera meminta bantuan pengacara dari
YLBHI untuk mendampingi para korban penangkapan. Di bawah koordi-
nator Direktur LBH Jakarta, Luhut M>P> Pangaribuan SH LLM, dua
penasehat hukum dari LBH Jakarta, Waskito Adiribowo SH dan R.
Dwiyanto Prihartono segera berangkat ke Polda.

Pk. 22.30 wib
Seorang anggota AJI, Eko Maryadi yang tidak mengetahui
adanya penangkapan di depan Hotel Wisata Internasional, datang ke
Sekretariat AJI di Rumah Susun Tanah Abang di Jl H.M. Mas Mansyur
Blok 39 Lt II No 4 menemukan sejumlah tanda-tanda mencurigakan.
Rupanya “markas” AJI telah diduduki para intel. Seorang anggota
Polwan yang memergoki Eko Maryadi segera menagkapnya dan membawa
ke Polda Metro Jaya.

JUMAT, 17 MARET 1995 (Hari Ke Dua)
Pk. 00.15 wib
Pengacara LBH dan sejumlah wartawan datang ke Polda. Petugas
Polda yang ditemui pengacara LBH Jakarta dan beberapa wartawan
menyatakan, bahwa pihaknya tidak tahu-menahu soal pengakapan
sejumlah wartawan di Hotel Wisata. Mereka menganjurkan agar
mengubungi Polres Jakarta Pusat. Beberapa wartawan yang
menghubungi Polres Jakarta Pusat mendapatkan jawaban sama, mereka
tak tahu-menahu soal penangkapan tersebut.
Sementara itu sejumlah wartawan yang mencoba menelpon Sekre-
tariat AJI jadi kebingungan, karena ada orang yang mengaku diri
bernama Eko Maryadi, Danang dan Andy.

Pk. 01.30 wib
Sri Bintang Pamungkas, Ahmad Taufik dan Liston P. Siregar
keluar dari ruangan Ditserse Polda. Selama di Polda mereka
ditelantarkan, tidak ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab
dan menangani mereka. Juga tidak terjadi serah terima tahanan ke
Polda. Mereka hanya dikunci disebuah ruangan oleh orang-orang
yang tidak diketahui identitasnya. Kartu tanda penduduk (KTP)
Taufik dan Liston diambil oleh seorang yang mengaku petugas.
Mereka berhasil lolos dari sana dengan cara melewati beberapa
pintu yang menghubungkan sejumlah ruangan Dit Serse. Sementara
Danang Dan Fitri belum diketahui nasib dan keberadaannya.

Pk. 04.00 wib
Rumah orang tua Ahmad Taufik di Kebun Pala didatangi intel
yang mengaku sebagai wartawan anggota AJI. Mereka menanyakan
keberadaan Taufik dengan mengatakan bahwa ada sesuatu yang pent-
ing menyangkut diri anaknya. Tanpa rasa curiga, orang tua Taufik
mengatakan bahwa anaknya kemungkinan berada di Condet. Intel yang
mendapatkan alamat jelas Taufik segera menciduk Taufik yang
tengah menimang anaknya (Ali Anzi yang baru lahir 7 Maret 1995)
di kediamannya di kawasan Condet. Penangkapan kali ini disertai
surat penangkapan yang ditandatangani langsung oleh Sundari dari
Unit Bunuh Culik Direktorat Polda Metro Jaya.

Pk. 08.00 wib
Setelah diinterograsi di Polda selama semalam, Fitri dile-
pas. Darinya didapat keterangan bahwa dirinya beserta Danang
disekap di Polda. Di sana ia dimintai sejumlah keterangan tentang
acara halal-bihalal, AJI, majalah Independen dan informasi soal
Sekjen AJI, Santoso.
Dari cerita Fitri diketahui, bahwa karena banyak yang tidak
diketahuinya, petugas melepaskannya. Ketika Fitri meninggalkan
ruangan seorang anggota polisi yang memangkapnya melihat dan
berteriak, “Hei mau ke mana? Simi! Pemeriksaan belum selesai!”
Akibatnya ia diinterograsi lagi. Seorang petugas menyodorkan
sejumlah foto demonstrasi menentang pembredelan pada Juni 1994
lalu. Petugas meminta Fitri menunjukkan orang yang bernama Santo-
so. Fitri menyatakan bahwa dirinya tidak tahu. Akibatnya, petugas
mengancam akan menahannya. Petugas juga memprovokasi dengan
menyatakan bahwa Fitri adalah pacar Santoso. Untuk itu ia harus
bersedia memberikan keterangan perihal diri Santoso. Namun Fitri
tetap menyetakan bahwa dirinya tak tahu menahu apalagi mengenal
Santoso.

Pk. 10.00 wib
Pengacara LBH Jakarta Waskito Adiribowo SH dan R Dwiyanto
Prihartono SH datang ke Polda untuk menemui anggota AJI yang
masih ditahan tetapi tidak berhasil.
Kantor Majalah Forum Keadilan didatangi petugas Polda Metro
Jaya. Mereka mencari dan meminta agar Sekjen AJI, Santoso yang
bekerja di tempat tersebut diserahkan kepada mereka. Petugas tak
berhasil menemukan Santoso, meski mereka tiga kali mendatangi
kantor Forum Keadilan.

Pk. 13.00 wib
Polda Metro Jaya mengadakan konprensi pers dengan para
wartawan. Kepala Direktorat Reserse Polda Metro Jaya Kolonel
(Pol) Nurfauzi di dampingi Kadispen Polda Metro Jaya Letkol (Pol)
Bambang Haryoko mengakui kepada pers bahwa pihaknya memangkap 5
aktifis AJI. Mereka adalah Ahmad Taufik, Eko Maryadi, Danang,
Abdul Harris dan Janni Zahir (hasil konfirmasi dari AJI menyata-
kan, bahwa dua orang yang terakhir bukan orang AJI).
Pihak Polda Metro Jaya menyatakan bahwa mereka ditahan
sehubungan dengan kasus penerbitan buletin Independen yang tak
memiliki surat ijin penerbitan pers (SIUPP). Polda Metro Jaya
juga menyetakan bahwa pihaknya tengah mengusut isi buletin
tersebut, apakah menghina, menfitnah, mencemarkan nama baik atau
menyatakan permusuhan dengan pemerintah Indonesia. Polda meng-
kaitkannya dengan Pasal 154 jo 55 KUHP dengan ancaman maksimum 7
tahun.

Pk. 14.00 wib
Pengacara LBH Jakarta Rita Serena Kalibonso SH yang datang
ke Polda Metro Jaya dan berhasil menemui 5 orang yang ditangkap.
Sementara itu Sri Bintang Pamungkas mengadakan konprensi
pers di kantor LBH di Jl. Diponegoro 74. secara mendetil ia
menjelaskan peristiwa penangkapan yang semena-mena oleh petugas
yang tak jelas identitasnya.

Pk. 15.00 wib
Fitri muncul di kantor LBH Jakarta dan bercerita tentang
pengalamannya selama satu malam menginap di Polda Metro Jaya.

Pk 17.00 wib
Direktur Eksekutif YLBHI Drs. Mulyana W. Kusumah
mengeluarkan siaran pers yang memprotes dan meminta agar para
penanngungjawab keamanan segera memberikan penjelasan publik yang
menyeluruh mengenai peangkapan tidak sah atas para aktivis AJI
dan anggota DPR RI Sri Bintang Pamungkas. YLBHI juga meminta agar
Polda Metro Jaya segera membebaskan tanpa syarat mereka yang
masih ditahyan.
Muncul kabar, seorang aktivis AJI di Bandung ditangkap
polisi dan sekretariat AJI di Bandung telah diduduki petugas.

Pk. 17.30 wib
Ketua PWI Jaya Tarman Azzam (Pemimpin redaksi Harian Terbit)
didampingi sekretarisnya Marah Sakti (Pemimpin Redaksi Majalah
Tiras) mengadakan jumpa pers. Dalam jumpa pers itu ia mengumumkan
pemecatan 13 wartawan anggota PWI Jaya yang ikut menandatangani
“Deklarasi Sirnagalih”. Para wartawan tersebut adalah Happy
Sulistyadi, Ardian T. Gesuri, Diah Purnomowati, Goenawan Muhamad,
Fikri Jufri, Budiman S. Hartoyo, Toriq Hadad, Yopi Hidayat,
Moebanoe Moera (dari Tempo), P. Hasudungan Sirait (Bisnis Indo-
nesia), Eros Djarot (Detik), Satrio Arismunandar (Kompas) dan
Yosep Adi Prasetyo (Jakarta-Jakarta).
Tarman Azzam menghimbau kepada para pemimpin redaksi media
massa agar tidak mempekerjakan wartawan yang yang bukan anggota
PWI, terutama wartawan yang dipecat oleh PWI tersebut. Bagi media
massa yang tak mau mengindahkan himbauan tersebut niscaya akan
dikenai sanksi.

Pk. 22.00 wib
Di Polda Metro Jaya, Ahmad Taufik, Eko Maryadi dan Danang
dipindahkan ke sel tahanan yang berada di bawah pengawasan Sat-
serse Polda. Ruangan sel berukuran 15 x 4 m yang berisi 19 tahan-
an dengan berbagai kategori. Mulai pembunuh, pemerkosa, pencuri
hingga preman.

SABTU, 18 MARET 1995 (Hari Ke Tiga)
Pk. 09.00 wib
Kantor Berita Antara memberitakan. Polda Metro Jaya mele-
paskan Abdul Harris dan Janni Zahir yang ternyata tak memiliki
keterkaitan langsung dengan AJI mau pun Independen.

Pk. 17.00 wib
Dua orang polisi mendatangi rumah keluarga Eko Maryadi di
Condet. Mereka menyerahkan surat perintah penahanan dan surat
pemberitahuan penahanan bernomor Pol. SPP/157/III/1995/Dit Serse
yang dikeluarkan Direktorat Reserse Polda Metro Jaya yang ditanda
tangani Kepala Satserse Umum Letkol G. Mere kepada keluarga Eko
Maryadi.

Pk. 21.00 wib
Seorang anggota AJI mendapat kabar bahwa Eko Maryadi yang
tengah ditahan di Polda kumat penyakit tukak lambungnya (maag).
Lewat sebuah pesan yang dikirim ke anggota AJI tersebut, Eko
Maryadi mengharapkan makanan berupa bubur.

Pk. 20.00 wib
Sejumlah aktivis LSM berniat mengantarkan obat-obatan dan
bubur pesanan. Tapi niat tersebut dibatalkan karena seorang
petugas piket Polda menyatakan, pihak Polda pada pk 19.00 telah
membawa Eko Maryadi ke dokter.

MINGGU, 19 MARET 1995 (Hari Ke Empat)
Pk. 11.30 wib
Ahmad Taufik, Eko Maryadi dan Danang dipindahkan ke Sel B-11
yang berkondisi lebih bagus. Meski air dan bau WC dalam kondisi
yang tetap memprihatinkan dan banyak nyamuknya.

Pk. 19.00 wib
Dalam serangkaian pidato saat penyerahan penghargaan Adine-
goro terjadi “penyerangan” terhadap AJI. Ketua PWI Jaya, Tarman
Azzam menyatakan mendukung sepenuhnya tindakan Polda Metro Jaya
yang menangkapi anggota AJI sebagai upaya penertiban penerbitan
tanpa SIUPP. Ketua PWI Sofyan Lubis menyatakan mendukung langkah
pemecatan PWI Jaya terhadap 13 anggotanya yang jadi penandatangan
“Deklarasi Sirnagalih” dan tindakan tegas jajaran Polri terhadap
pengelola Independen. Sedangkan Menpen Harmoko juga menyatakan
sikap dan dukungan serupa.

SENIN, 20 MARET 1995 (Hari Ke Lima)
PK. 10.00 wib
AJI menyelanggarakan konprensi persi di kantor YLBHI di Jl.
Diponegoro 74 Jakarta. Dalam konprensi pers tersebut dibacakan
pernyataan Sekjen AJI yang pada intinya menyatakan bahwa mener-
bitkan dan mengelola pers alternatif, tanpa SIUPP, adalah hak
setiap warganegara seperti dijamin dalam Pasal 28 UUD 45. Santoso
juga menyatakan, AJI juga mengucapkan selamat kepada 13 wartawan
yang dipecat PWI. AJI memang tidak percaya pada model-model wadah
tunggal, karena sistem seperti itu sedang tenggelam ditinggalkan
sejarah.
Dalam pernyataan yang ditulis tangan tersebut AJI mengajak
aparat untuk konsisten dalam menegakkan hukum. Sebagai Sekjen
AJI, Santoso menyatakan bertanggungjawab atas kegiatan AJI dan
penerbitan Independen. “Yang saya yakini sebagai bagian dari
partisipasi masyarakat dalam pencerdasan bangsa”.
Dalam siaran pers AJI yang ditandatangani oleh Presidiumnya,
organisasi profesi wartawan yang didirikan berdasarkan “Deklarasi
Sirnagalih” itu menjelaskan kejadian 16 Maret 1995. Juga tangga-
pan atas pernyataan Polda Metro Jaya bahwa acara AJI itu tidak
mempunytai izin, jelas salah besar. Sebab saat menyewa ruangan
Rebana, pihak manajemen Hotel Wisata menjelaskan pada AJI bahwa
biaya sewa ruangan sudah termasuk biaya pengurusan prosedural
perijinan dari pihak yang berwewenang.
Sementara itu berkaitan dengan pernyataan PWI Jaya perihal
para penandatangan “Deklarasi Sirnagalih”, AJI menjelaskan beb-
erapa hal.
Pertama, sesuai “Deklarasi Sirnagalih” yang menolak pewadah-
tunggalan para wartawan. Oleh sebab itu pemecatan 13 anggota PWI
Jaya penendatangan “Deklarasi Sirnagalih” dinilai AJI sebagai
sebuah hal yang tak relevan, apalagi untuk ditanggapi.
Ke dua, sesuai dengan “Deklarasi Sirnagalih” AJI tidak
pernah manafikan eksistensi PWI. Yang ditolak adalah konsep wadah
tunggal, yang meniadakan hak jurnalis Indonesia untuk berserikat
dan berorganisasi di luar PWI. Padahal hak berserikat dan
berorganisasi ini dijamin UUD 45 dan tidak bisa dimentahkan oleh
undang-undang atau pun peraturan di bawahnya.
Ke tiga, sikap PWI yang mendesak dan memaksa para pemred
setiap media massa untuk tidak mempekerjakan lagi sebagai warta-
wan seluruh penandatangan “Deklarasi Sirnagalih”, adalah sikap
otoriter yang mencerminkan keangkuhan kekuasaan. Sikap itu jelas
melanggar ketentuan Hukum Perburuhan, dan juga melecehkan profesi
sendiri. Sebab, hanya karena pelanggaran besar kode etik profesi
sajalah, yang bisa membuat seseorang tidak berhak menyandang
profesinya.
Ke empat, menyerukan kepada setiap anggota AJI dan para
simpatisan AJI, agar tetap menahan diri, tidak terpancing oleh
segala bentuk hasutan dan pancingan. Waktu akan menunjukkan siapa
yang benar dan siapa yang salah.
Pada saat yang sama, di Yogyakarta sekitar 100 mahasiswa
dari berbagai perguruan tinggi menggelar mimbar bebas di halaman
DPRD I DIY. Secara bergantian mereka yang mewakili Dewan Mahasis-
wa Universitas Gajah Mada (Dema UGM), Kelompok Studi dan Diskusi
Forum Demokrasi Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (Fordema
Unisi), Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia (PPMI) dan
Solidaritas Mahasiswa Indonesia unuk Demokrasi (SMID) Cabang
Yogyakarta. Rombongan yang gagal melakukan dialog dengan anggota
DPRD bertahan hingga pk 12.00.
Dema UGM dalam pernyataan sikapnya yang ditandatangani
Ferdinand Ampur menyatakan penangkapan terhadap para wartawan AJI
menunjukkan bahwa pemerintah tak menghormati dan memahami hak
setiap warganegara untuk memperoleh dan mengelola informasi
sebagaimana dijamin dalam Pasal 28 UUD 45.
Sedangkan Andi Arief sebagai Ketua Cabang SMID Cabang Yogya-
karta menyatakan sikap menentang tindakan penangkapan dan intimi-
dasi terhadap para aktivis AJI, aktivis pers mahasiswa dan anggo-
ta DPR RI Sri Bintang Pamungkas. Selain itu ia juga menyatakan
mendukung setiap organisasi yang berwatak independen dan demokra-
tis. Andi Arief mengutuk setiap praktek pembungkaman kebebasan
untuk memproduksi serta mendapatkan informasi.
Sementara itu PWI Jaya dalam rapatnya menyatakan mencabut
rekomendasi Goenawan Mohamad sebagai pemred Majalah Swa sebagai
tindak lanjut atas gugurnya keanggotaan 13 anggota PWI Jaya.

Pk 17.00
Pemeriksaan intensif Polda terhadap Ahmad Taufik sebagai
tersangka yang dimulai semenjak pagi berakhir.

SELASA, 21 Maret 1995 (Hari Ke Enam)
Pk. 10.00 wib
Sekitar 70 aktivis mahasiswa, pemuda dan aktivis LSM yang
tergabung dalam Solidaritas Indonesia Untuk Pembebasan Pers
(SIUPP) datang ke Gedung DPR RI. Rombongan diterima oleh Fraksi
PDI di bawah pimpinan Sabab Sirait. Kepada Fraksi PDI, SIUPP
menyatakan kecamannya terhadap watak otoriter dan reaksioner
pemerintah. SIUPP menyampaikan 4 sikap dan tuntutannya.
Pertama, ditegakkannya dan diakuinya hak berbicara dan
berpendapat bagi rakyat melalui pers alternatif di Indonesia,
karena secara tegas dilindungi oleh Pasal 28 UUD 1945 dan Deklar-
asi Hak Asasi Manusia PBB.
Ke dua, ditegakkannya dan diakuinya hak untuk mendirikan
organisasi secara independen, sesuai dengan yang diamanatkan
dalam Pasal 28 UUD 1945.
Ke tiga, dihapuskannya Haatzai Artikelen warisan kolonial,
karena sudah tidak sesuai dengan situasi politik nasional Indone-
sia saat ini.
Ke empat, dibebaskannya seluruh aktivis pers alternatif yang
ditangkap.
Sementara itu beberapa koran ibukota, terutama Media Indone-
sia dan Berita Buana menurunkan laporan dan kolom yang bernada
menyerang AJI. Juga Harian Surya di Surabaya.
Di Jawa Timur, jajaran Polda Jatim lewat Harian Surya menya-
takan dukungan penuhnya kepada Kejaksaan Tinggi untuk menarik
peredaran majalah Independen.

RABU, 22 MARET 1995 (Hari Ke Tujuh)
Tidak ada perkembangan, kecuali mereka yang ditahan di Polda
Metro Jaya dikabarkan tengah menjalani pemeriksaan intensif.

KAMIS, 23 MARET 1995 (Hari Ke Delapan)
Pk. 11.00 wib
Ketua PWI Jaya Tarman Azzam didampingi Wakil Sekretaris
Marah sakti Siregar memanggil 8 pimpinan media massa yang
dianggap bermasalah. Mereka adalah Karni Ilyas dari Forum
Keadilan, August Parengkuan dari Kompas (diwakili Bambang S.P.),
Banjar Cheruddin dari Bisnis Indonesia, Anzel da Lopez dari
Jakarta-Jakarta (diwakili Seno Gumira Ajidarma), T. Youslisyah
dari Media Indonesia, Sutarno dari Suara Pembaruan, Iwa Sungkawa
dari Citra dan Susanto Pudjomartono dari Jakarta Post. Pimpinan
PWI yang didampingi anggotanya Reinhard Simanjuntak (wartawan
senior Kompas) mengancam 8 pemimpin media massa agar segera
mengeluarkan wartawan yang dipecat keanggotaannya dari PWI.
Mereka juga meminta agar pimpinan media massa bisa mengendalikan
sekaligus menertibkan para anak buahnya yang diketahui aktif di
AJI dan berpartisipasi dalam pembuatan majalah Independen. Kalau
tidak, sanksi kepada pimpinan media massa yang bersangkutan sudah
menunggu.

JUMAT, 24 MARET 1995 (Hari Ke Sembilan)
Pk. 11.00 wib
Kembali 8 pimpinan media massa dipanggil. Kali ini oleh
Dirjen PPG Drs. Subrata. Pimpinan PWI Pusat dan PWI Jaya ikut
mendampingi Dirjen. Pada pertemuan ini para pemred diingatkan
bakal adanya law enforcement dari pemerintah kepada para wartawan
pembangkang. Begitu pula terhadap pimpinan media massa yang tak
mengindahkan “himbauan” PWI.


2 Comments so far
Leave a comment

ternyata peranan media di jaman sebelum reformasi sangat tipis.
pemerintah yg berperan di dalam media. berarti indonesia belum merdeka pada saat itu karena hak2 asasi manusia itu gak ada.

apa skrg indonesia sudah menjadi negara demokrat?
dimana penduduk bebas menyuarakan pendapatnya dan pemerintah mendengarkan suara rakyat.

sepertinya negara demokrat itu adalah negara utopia.

Comment by generasi baru indonesia

Thanks AJI…
Berita ini aku dapatkan dari kawanku di Kanada.
Aku sangat bergembira karena sudah terlalu lama kehilangan kontak dengan teman-teman mantan aktivis 90an, terutama yang bergabung di Dewan Mahasiswa UGM dan SMID Yogyakarta serta AJI. Tolong dong agar kita bisa saling kontak lagi untuk share pengalaman masing-masing, berdiskusi soal idealisme kita dulu an tentunya melepas kangen…
Khusus untuk mas Andy Arif, sekarang ada dimana? Kalau teman2 AJI punya informasinya, tolong sampaikan kepada saya. Juga teman2 yang lainnya. Emailku : ferdinand_72@hotmail.com atau gulielmov@yahoo.com. Terimakasih AJI dan kutunggu kabar dari teman-teman seperjuangan.
Ferdinand Ampur

Comment by Ferdinand




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: