Aliansi Jurnalis Independen


Tikungan Terakhir
June 1, 2001, 10:24 am
Filed under: Kliping

June 01, 2001
Di ujung nasib Rudi Singgih disangka pencuri kemudian ditembak mati.

Oleh AGUS SOPIAN

KENNY duduk tepekur. Tangan kiri meremas-remas ujung jari tangan kanannya. Bibirnya terkatup. Wajahnya lebih banyak menunduk.

Di sana, di sebuah rumah yang asri, di Jalan Surya Setra, Bandung, ia sedang mengungsi, menenangkan diri. Alih-alih tenang, wartawan terus memburunya. Pagi, siang, dan malam. Bahkan saat tahlilan sekali pun. “Mas, bisa nggak bantu saya mencarikan wartawan yang jujur. Yang nggak berpihak,” ucapnya kepada saya. Ia tampaknya mulai enggan melayani pertanyaan apapun tentang dirinya, anak-anak, keluarga, dan tetek-bengek lain.

Perempuan berusia 31 tahun ini baru saja kehilangan suaminya, Singgih.

Senin 23 April 2001, sekitar pukul 22.00, rumah mereka digerebek. Polisi membawa suaminya yang berjalan tertatih-tatih. Sebutir peluru menembus kakinya. Satu kali Singgih sempat memalingkan muka, melihat istrinya. Kenny tak bisa berbuat apa-apa, selain meminta-minta polisi untuk tak menyakiti suaminya. Selebihnya, menangis.

Selasa pagi 24 April 2001, Kenny bertemu lagi suaminya. Tapi Singgih sudah terbujur kaku, di kamar mayat. Kedua matanya seperti hendak melompat dari kelopaknya. Ada luka memar di pundak kiri dan kepala bagian belakang. Ada luka tembak di betis kanan. Peluru melubangi punggung hingga menembus dada depan sebelah kiri.

Gempa dahsyat mengguncang batin Kenny. Dan ini bukan yang terakhir. Guncangan berikutnya adalah secarik surat dari kepolisian kepada rumah sakit yang menyebutkan, “Jenazah tersebut ditemukan di Jalan Wartawan ….” Kenny tidak bisa menerima ini. Ia melihat dengan kepalanya sendiri, suaminya masih bernyawa ketika diangkut ke kendaraan polisi.

“Rudi itu penyayang anak. Kalau saya marah sedikit saja, dia nggak suka. Dia sangat melindungi anak-anak. Dia family man banget,” pelan Kenny membuka mulut.

Di malam itu, setelah menghilang satu minggu dari rumah dan hanya berhubungan via telepon, Singgih sedang mencandai anaknya, Syara. Sedangkan anaknya yang kecil, Reio, baru saja tertidur. Singgih benar-benar lupa dengan semuanya. Tak sedetik pun ia menyentuh play station, hobi fanatiknya. Bahkan makan malam pun telat, sekitar pukul 22.00. Sambil membereskan perabotan makan, Kenny berkali-kali melirik suaminya. “Tampan banget kamu,” bisik hatinya. “Saya belum sempat mengatakan ini,” ujarnya.

Selasa sore 24 April 2001, Kenny berangkat ke kuburan Sirnaraga untuk mengebumikan suaminya. Tak banyak yang mengantarnya. Pusara yang masih merah ia taburi bunga.

Ia meninggalkan kuburan itu ketika matahari makin redup, terhalang awan-awan tebal. Berikutnya, hujan pengujung April mengguyur kota Bandung, seakan turut membantu mengalirkan kepiluan hati Kenny.

SAMPAI akhir hayatnya, Singgih masih tercatat sebagai wartawan Pilar, majalah dwi mingguan terbitan Jakarta. Jabatannya redaktur foto.

Ia lahir 6 Agustus 1959, di Jakarta, dengan nama lengkap Rudi Priatama Singgih. Pria tegap ini biasa menuliskan namanya Rudi P. Singgih.

Singgih datang dari keluarga besar, dengan menyandang predikat “pelawak keluarga,” karena guyonan-guyonannya yang kerap membuat seisi rumah ngakak. Ia anak ketiga dari enam bersaudara. Eni anak tertua, disusul Ari, Rudi, Rini, Yani, dan si bungsu Coki. Di belakang nama mereka, nama Singgih dibubuhkan. Ini memang nama keluarga.

Ayah mereka, Bambang Singgih, lebih dikenal sebagai politisi ketimbang jurnalis. Pada pemilihan umum 1999, namanya tampil dalam susunan personil dewan pemimpin pusat Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) pimpinan Hadidjojo Nitimihardjo dan Nelly Adam Malik, istri almarhum wakil presiden Adam Malik.

Bambang bukan orang baru di Partai Murba. Wartawan Antara tahun 1950-an ini sempat menduduki kursi sekretaris jenderal sampai partainya dibubarkan oleh rezim Presiden Soekarno.

Si bungsu Coki, yang rajin mencatat sejarah hidup ayahnya, mengatakan, ketika dipenjara, Bambang pernah satu sel dengan Tan Malaka, tokoh misterius dalam sejarah politik modern Indonesia. Tan Malaka di mata Harry Poeze, yang menulis buku Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik, adalah inspirator pendirian Partai Murba. Hidupnya penuh dengan pelarian dan bui yang banyak makan tenaga, kesengsaraan, tragedi.

“Saat Poeze meneliti riwayat Tan Malaka, babe juga jadi narasumber,” kata Coki.
Yosep Adi Prasetyo, penulis buku Seputar Kedung Ombo, yang punya banyak relasi dengan kalangan orang-orang generasi tua, menyetujui klaim seperti itu, “Saya kira kalau bolak-balik ke Indonesia, Poeze pasti menghubungi Bambang Singgih.”

Mentor politik Bambang adalah ayahnya sendiri: Mr. Panji Singgih. Ia tak lain adalah tokoh pergerakan nasional, pendiri Partai Indonesia Raya, dan sempat menjadi salah seorang anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Kini Bambang telah renta, 73 tahun. Demikian pula istrinya Neti Lasut, yang satu tahun lebih muda darinya. Sadar senja telah datang, mereka menyerahkan segala urusan keluarga kepada Ari Singgih, si sulung yang biasa dipanggil Ibob. Seperti ayahnya, Ibob menunjukkan minat pada politik. Pilot salah satu maskapai penerbangan ini adalah kader Partai Murba sebagai salah seorang wakil ketua.

Baik Bambang maupun Neti, di mata anak-anaknya, adalah figur orangtua yang konsisten mempertahankan prinsip. Bedanya, dari ibu, segala kelembutan dapat diperoleh anak-anaknya dengan mudah. Neti adalah adik kandung Ari Lasut, geolog bumiputera pertama hasil didikan Belanda. Menurut riwayat yang berkembang di keluarga tersebut, Ari Lasut ditembak mati Belanda gara-gara emoh bekerjasama dalam penggalian kekayaan bumi Indonesia. Untuk mengenang jasa-jasanya, Museum Geologi di Bandung menyimpan patung Ari Lasut. Di Manado, nama Ari diabadikan pada gelanggang olahraga.

Kakak Neti yang lain adalah Willie Lasut. Pada 1980-an, Willie mencapai karier birokrasi sebagai salah seorang gubernur di Sulawesi. “Hanya tiga bulan jadi gubernur,” kata Ibob. Kok sebentar amat? “Ingat kasus cengkeh? Dia sepertinya berbeda pendapat dengan (pemerintah) pusat,” tukasnya.

Singgih tumbuh, berkembang, dan besar di Jakarta. Ia menyelesaikan sekolah dasar dan menengahnya di Ora et Labora, lalu masuk Pangudi Luhur sebelum menamatkannya di SMAN 9. Sebagaimana remaja yang pandai bergaul, Singgih memiliki banyak teman. Rumahnya, di Jalan Nipah, daerah Prapanca, Jakarta, jadi markas kumpul-kumpul teman-temannya.
Di mata Ibob, Singgih adalah kombinasi pribadi nekat, ringan hati, dan gemar menolong orang. “Rudi terkadang mengorbankan dirinya. Ini nilai-nilai luar biasa padanya yang kami kagumi, tapi juga kadang mencemaskan,” begitu Ibob berpendapat.

Coki menuturkan bagaimana Singgih bereaksi saat ia melintasi daerah tawuran. Ia sontak menghentikan kendaraan dan turun ke jalan ketika dilihatnya seorang anak terkapar, dengan tubuh bersimbah darah. Orang yang tidak dikenalnya itu ia bopong ke dalam kendaraan dan dilarikan ke rumah sakit. Tinjunya pun dapat dengan mudah diacungkan pada orang yang coba-coba mengganggu temannya.

Tahun 1985, Singgih memperoleh gelar sarjana arkeologi dari Universitas Indonesia, Jakarta. Ia belum lagi menunjukkan ketertarikannya untuk bekerja. Waktu luang ia pergunakan untuk lebih menikmati dunianya. Dunia anak jalanan. Ia tak pernah membawa problem pribadinya ke dalam rumah. Baginya, rumah adalah tempat untuk mencari kesenangan lain, yang tidak bisa didapatkan di luar.

Di rumah, Singgih biasa mengasuh keponakan-keponakannya. “Rudi,” ungkap si bungsu Coki, “orangnya pinter ngemong. Saya dulu sering diajak jalan. Seharian. Yah, kita keliling-keliling dari satu tempat video game ke tempat lainnya. Asyik lho jalan dengan dia. Kita merasa nyaman. Aman. Canda melulu lagi.”

Pada 1987 Singgih mulai kerja, bergabung dengan majalah berita Tempo. Coki bilang, keluarganya sangat bangga dan bersyukur Singgih mulai tertarik kerja. Tak henti-hentinya mereka berharap, kenakalan Singgih bisa tersalurkan untuk tujuan-tujuan positif.

Setahun kemudian, Singgih meminang Laurentia Joja Djajadiningrat, teman kuliahnya yang berselisih usia dua tahun dengan Singgih. Pernikahan pertama Singgih ini ternyata tidak mulus. Tujuh tahun kemudian, tanpa dianugerahi anak, mereka bercerai. Dua tahun Singgih hidup sorangan bae. Ia tidak kelihatan patah arang. Kegiatannya pun nyaris tidak berubah: bekerja, berkaraoke, atau bermain play station semalam suntuk.

TAHUN 1994, tepatnya 21 Juni 1994, Tempo dibredel, bersama mingguan Detik dan Editor. Singgih kembali jadi anak jalanan dalam bentuk lain. Bukan berkelahi dengan berandalan-berandalan yang mengganggu temannya. Kali ini, ia turut berkelahi dengan kekuasaan. Periode hari-hari penuh demonstrasi pun ia jalani.

“Saya merasakan dan mengalami sendiri, betapa massa yang turun ke jalan memprotes pembredelan Tempo, Detik, dan Editor, dihantam begitu rupa. Namun, saya yakin, seperti Bang Ali Sadikin pernah bilang, ‘Kebenaran bisa disalahkan, tapi tidak bisa dikalahkan.’ Itu sebabnya, saya menggugat,” kata Singgih dalam buku Mengapa Kami Menggugat yang diterbitkan Yayasan Alumni Tempo.

Buku ini pun dengan jelas menggambarkan perpecahan wartawan Tempo ke dalam sedikitnya dua kelompok: pragmatis dan prinsipal. Kelompok pragmatis, dalam definisi Bambang Harymurti, sekarang pemimpin redaksi Tempo, adalah mereka yang memilih mengusahakan surat izin penerbitan pers baru ketimbang menggugat pemerintah ke pengadilan. Surat izin penting agar idealisme dapat terus diperjuangkan. Kelompok ini mendirikan majalah Gatra. Sedangkan kelompok lainnya tetap pada prinsipnya untuk menggugat tindakan rezim Presiden Soeharto, apapun risikonya. Singgih termasuk kelompok ini.

Singgih pun menemukan medan perkelahian lain selain berdemonstrasi dan menggugat di pengadilan, ia turut menyokong penerbitan bawah tanah Independen. Di sini Singgih membantu pengadaan foto. “Saat itu kita memang kesulitan menyediakan foto-foto bagus. Lagi pula tak banyak yang berani membantu kita,” kenang Santoso, mantan editor Independen, kini bekerja buat radio 68H.

Keluarga tak melarang sepak terjang Singgih. Bahkan, sebaliknya, seluruh keluarga justru mendukungnya. Dukungan keluarga bukan sekadar lagu pengantar tidur. Sejumlah kawan Singgih, sempat mereka sembunyikan ketika sedang diburu aparat menyusul penangkapan-penangkapan terhadap awak redaksi Independen. “Kebetulan saya kenal keluarga itu,” ucap Santoso.

Majalah Independen adalah fenomena penting dalam sejarah pers Indonesia menjelang hari-hari terakhir jatuhnya kekuasaan tiran Soeharto. Di masa ini, penerbitan tanpa surat izin seperti Independen, haram sama sekali.

Independen lahir dari kesepakatan wartawan dalam pertemuan di dusun Sirnagalih, Puncak, 6-7 Agustus 1994. Di situ diputuskan, Fowi, mulanya singkatan Forum Wartawan Independen, dijadikan media terbatas di kalangan wartawan. Fowi mengalami perubahan dalam logonya: Forum Wartawan ditulis kecil saja, dan kata Independen diperbesar. Dari jauh, orang pasti mengira nama majalah ini Independen.

Sebagai majalah, konsep Independen tidak bagus-bagus amat. Tipografinya sering kehilangan konsistensi. Belum lagi cara kerjanya yang serabutan. Namun, di balik ini semua, Independen tegas-tegas menunjukkan perlawanan terhadap sebuah rezim yang menekan kebebasan berpendapat.

Selama beberapa bulan awak redaksi berkelit dari jamahan intel. Tapi pada 16 Maret 1995 mereka bernasib sial. Di sela-sela acara halal bil halal di Hotel Wisata Indonesia, Jakarta, mereka diserbu polisi. Sejumlah awak redaksi seperti Ahmad Taufik dan Eko Maryadi digaruk polisi. Bersama mereka, Danang Kukuh Wardoyo, seorang karyawan nonredaksi, pun tak urung merasakan sel penjara.

Singgih tidak kecut. Penanda tangan Deklarasi Sirnagalih ini tetap mengulurkan tangan kepada para aktivis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen, organisasi jurnalis yang menolak organ tunggal profesi kewartawanan, sekaligus memperjuangkan kebebasan pers. Singgih, misalnya, menjadi penghubung Aliansi Jurnalis Independen dengan keluarga Suardi Tasrif, ketika organisasi wartawan ini hendak membuat program penghargaan tahunan Suardi Tasrif Award.

Tasrif adalah editor suratkabar Abadi yang kebetulan masih keluarga Singgih dari garis ibu. Hadiah itu sendiri diberikan kepada mereka yang dianggap mendukung perjuangan kebebasan pers.

“Saat kita nyadran ke makam Suardi Tasrif dan Tirto Adhi Soerjo, Singgihlah yang menyediakan bis-bisnya. Dan Singgih pula yang membayarnya,” kata Yosep Adi Prasetyo, salah seorang pendiri Aliansi Jurnalis Independen.

Tirto Adhi Soerjo adalah redaktur Medan Prijaji pada awal abad 20. Ia dianggap salah satu pelopor jurnalisme di Indonesia.

Santoso tak menyangsikan jasa-jasa Singgih terhadap Aliansi Jurnalis Independen, walau secara struktural Singgih bukan anggota apalagi pengurus. Sepengetahuan Santoso, Singgih tak pernah memberikan bantuan dalam bentuk uang. Tapi, Singgih dapat diandalkan ketika Aliansi Jurnalis Independen memerlukan fasilitas organisasi, semisal tempat rapat. Rumah kakaknya, di kawasan Cinere, Jakarta, yang ditempati Singgih bersama Joja Djajadiningrat, istri pertamanya, tak jarang jadi ajang rapat-rapat gelap.

Usai bergerak di bawah tanah, Singgih muncul ke permukaan dengan membawa bendera PT GetPlus. Perusahaan ini didirikannya bersama kawan-kawannya eks-Tempo seperti Indrawan dan Ahmed Kurnia Soerawidjaja, ditambah pihak luar yang merasa sepaham, di antaranya kakak sulung Singgih, Ibob. GetPlus sendiri kependekan dari Gabungan ex Tempo Plus. Garis bisnisnya bertumpu pada pengelolaan redaksional penerbitan pers.

Budiman S. Hartoyo, rekan kerja Singgih ketika masih sama-sama di Tempo mengungkapkan bagaimana GetPlus memainkan perannya di pusaran pers nasional, tanpa harus mengemis surat izin penerbitan pers pada penguasa. Mula-mula, kata Hartoyo, mereka mengerjakan penerbitan harian Sinar Pagi, lalu Merdeka Minggu, kemudian rubrik Delik di Media Indonesia. “Grup ini kemudian ketemu dengan konglomerat muda Tommy Winata dan menerbitkan majalah ekonomi dan bisnis Pilar,” tandas Hartoyo.

Payung Pilar adalah PT Griyamedia Komunindo, sebuah perusahaan gabungan GetPlus dengan investor. Di sini Kenny, lengkapnya Kenny Kaniawati, jadi sekretaris. Di sini pula Singgih menemukan kembali jodohnya. Ia jatuh hati pada Kenny. Inilah salah satu periode penting dalam hidupnya.

“Saya memilih keluar dari pekerjaan dan menikah,” Kenny menerawang. Saat mengatakan ini, matanya kelihatan sembab, dengan bulatan-bulatan biru di bawah kelopaknya.
Dari Kenny, Singgih mendapatkan anak yang lucu-lucu dan lincah: Syara Nandika Singgih dan Reio Pramadika. Singgih meninggalkan mereka untuk selamanya tatkala Syara berusia empat tahun, Reio dua tahun.

Syara, yang sudah mampu membaca air muka ibunya sering ngadat, “Aku sudah tidak punya ayah … aku sudah tidak punya ayah.”

MALAM hampir sempurna. Sebentar lagi dini hari.

Berkendaraan sepeda motor keluaran 1996 hasil kreditan, Yayan Sofian membelah malam. Udara dingin yang menusuk-nusuk badannya tidak ia pedulikan. Ia ingin segera sampai ke rumahnya, di daerah Cinunuk, Bandung, sekitar 20 kilometer dari pusat kota.
Jalan yang dilewatinya sudah terbebas dari kemacetan. Ia hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 25 menit untuk sampai ke rumah. Ketika hendak belok, ia melihat polisi sedang merazia kendaraan roda empat. Razia rutin. Sejenak ia berhenti dan menghampiri seorang polisi.

Di sela-sela senda gurau dan basa-basi, ia mendapat info bahwa baru saja terjadi penembakan terhadap seorang gembong pencuri kendaraan bermotor. Ragu-ragu dengan informasi tadi, Yayan mengontak salah seorang sumbernya melalui telepon genggam. Ia baru percaya setelah mendapatkan informasi yang diyakininya A-1. Segera ia mengontak kantornya. Niat pulang sementara ia undurkan.

Yayan bekerja untuk Galamedia, koran pagi, yang sebelum diambil alih Grup Pikiran Rakyat bernama Gala. Di paruh 1980-an, Gala sempat merger dengan Grup Surya Pesindo, payung Media Indonesia. Di tangan Surya Pesindo, citra Gala sebagai suratkabar kelas “abal-abal” berubah drastis. Tipografis Gala tampak lebih klimis dan konsisten.

Tetapi kerjasama itu bubar pada 1991. Dan Gala kembali ke akarnya. Sekarang pun, setelah Grup Pikiran Rakyat menggarapnya, akar budaya Gala masih tertanam kuat. Sehingga bila Jakarta punya koran kuning Pos Kota, Bandung punya Galamedia. Yang berubah adalah penampilan tata letaknya. Lebih rapi, lebih tertata, dengan warna spot ungu sebagai ciri khasnya.

Sebelum ditangani Grup Pikiran Rakyat, Gala sempat terseok-seok. Oplah rata-rata per hari 3.000 eksemplar. Untuk menekan biaya umum, Gala beberapa kali pindah kantor. Masih belum cukup, sebagian besar wartawan diupah berdasarkan berita yang dimuat. Untuk mengatrol kesejahteraan, wartawan diimbau mencari iklan.

Kini, oplah hingga 45 ribu eksemplar sudah dapat dijangkaunya. “Kerja jadi lebih capek,” kata Rusyandi, salah seorang awak redaksi, “Tapi apa yang kita kerjakan sebanding dengan hasilnya.”

Pokok pikiran seperti itulah agaknya yang jadi pemacu semangat Yayan untuk lebih giat bekerja.

Seperti napak tilas, rute yang baru saja dilewati, dibelahnya lagi. Memasuki kantornya, di Jalan Sekelimus, Hari Pramono, redaktur kota, sudah menantinya. Pria ini menjamin bahwa ia bisa memundurkan deadline. Yayan kembali melesat. Tujuannya ke tempat kejadian perkara yang berjarak tempuh hanya beberapa menit dari kantornya.
Di sana masih penuh orang. Yayan masih melihat genangan darah dan bekas kaki yang diseret paksa. Tapi ia tak mendapati korban penembakan, juga polisi-polisi yang melakukan penggerebekan.

Yayan sibuk menanyai saksi mata dan mereka yang seolah-olah jadi saksi mata. Yayan sampai pada kesimpulan, di situ memang terjadi penggerebekan yang diikuti penembakan. Secuil identitas tersangka, pun telah ia catat dalam bloknotnya.
Dari lokasi, lewat telepon genggam ia mengalirkan informasi ke redakturnya. Di seberang telepon, Hari Pramono langsung mengetik dengan perasaan agak cemas. Cemas telat cetak. Hari ingat, saat itu jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.30. Padahal deadline seluruh halaman pukul 24.00.

Beres mengetik, Hari tidak segera melarikan naskah cerita ke pracetak. Ia masih ingin mencari informasi lain, yang sekiranya dapat mendukung cerita yang baru saja dibuatnya. Ia pun harus menunggu Yayan untuk melaporkan data terakhir, selain bersama-sama melakukan verifikasi dan editing akhir.

Tuntas konfirmasi ke petugas kamar mayat Rumah Sakit Hasan Sadikin, naskah berita dianggap oke. Beberapa saat kemudian, percetakan disibukkan oleh penggantian plate. “Setelah tujuh ribu (eksemplar), plate stop press kita naikkan,” ujar Hari, seraya menjelaskan, koran yang baru saja tercetak langsung dipak seluruhnya untuk diedarkan ke luar daerah. “Mereka tentunya nggak kebagian berita ini.”

Pukul 05.30, publik kota Bandung mendapatkan berita hangat dari Galamedia. Buat media pesaing, berita itu mungkin tidak hangat. Tapi panas. Menyengat.

Galamedia turun dengan judul angker: “Gembong Curanmor Tewas Didor di Jalan Wartawan.” Letaknya di pojok kanan atas halaman muka, bergandengan dengan headline. Berita yang makan tiga kolom kertas broadsheet ini hanya terdiri delapan alinea. Dua alinea terakhir, lebih dari satu kolom, adalah kasus lain tentang penembakan terhadap seorang penjambret asal Lampung.

BERITA tentang kasus Singgih sendiri sebenarnya tidak lengkap-lengkap amat. Bahkan cenderung sumir. Tak ada nama saksi. Tak ada nama pelaku penggerebekan. Usia korban pun, tertulis 31 tahun, jelas keliru. Tapi, berita tersebut menjadi semacam alarm yang membuat media-media lain tersadar, bahwa selama ini mereka memilih tidur pulas ketimbang mengejar berita. Yayan sendiri hanya ber-ha-ha-hi-hi ketika rekan-rekan kerjanya melontarkan pujian. “Dia pekerja keras. Sering leading dalam pemberitaan,” puji Rusyandi.

Yayan memang memiliki catatan bagus dalam mengendus berita. Ia, misalnya, tercatat sebagai pelapor pertama kasus kematian penyanyi rock Deddy Stanzah dalam pelariannya. Sepanjang April, Yayan melaporkan paling awal sebuah kemuskilan: seorang perempuan tiba-tiba berubah jadi pria. Imas, warga Desa Cipanjalu, Cilengkrang, Bandung, demikian identitas si empunya berita, kemudian ganti nama Muhammad Dadang. “Wartawan Kartini malah datang meminta fotonya ke sini,” tutur Yayan. Ha-ha-hi-hi-nya masih mengikuti.

Dari penampilan fisik, Yayan tak menampakkan diri sebagai wartawan kebanyakan. Ia kelewat ramah, santun, dan cenderung merendah dalam bertutur kata. Justru inilah, menurut Rusyandi, kelebihan Yayan dalam menaklukkan sumber.

Tak jarang berita yang ditulis Yayan pada akhirnya memantik api persaingan berita hari-hari berikutnya. Tak terkecuali dalam pemberitaan kasus Rudi Singgih. Lihat saja, setelah berita Galamedia, suratkabar-suratkabar di Bandung sontak bereaksi, adu cepat dalam mendapatkan kepingan-kepingan informasi terbaru. Istri korban, yang mengungsi ke rumah saudara jauh, diburu habis. Juga tetangga korban. Polisi jangan tanya lagi.

Dari Jalan Soekarno-Hatta, markas besar Pikiran Rakyat, harian paling berpengaruh di Bandung, sedikitnya dua wartawan ditugaskan untuk menindaklanjutinya. “Ini kan kasus besar,” ujar Dedi Suhaeri, reporter kota yang baru sekitar satu tahun ditugaskan di Bandung.

Dedi, sehari-harinya mengisi beat kepolisian Jawa Barat, dimajukan ke gelanggang bersama Ahmad Yusuf, adik Ahmad Saelan, wartawan senior yang sempat menjadi redaktur kota Pikiran Rakyat. Yusuf sebelumnya bekerja buat tabloid Hikmah, anak perusahaan Grup Pikiran Rakyat yang baru saja dilikuidasi.

Harian pagi Metro Bandung, tak tanggung-tanggung. Koran ini membentuk tim reportase yang diawaki sedikitnya empat wartawan muda. Di dalam kantor, Budi Winarno, redaktur pelaksana, telepon sana telepon sini. Perburuan dan persaingan. Ini memanjakan pembaca.

Galamedia, walaupun selangkah lebih maju, kali ini sulit menandingi kakaknya, Pikiran Rakyat. Dengan memanfaatkan jaringan koresponden Jakarta, Pikiran Rakyat mendapatkan keterangan tambahan dari Andi Mustmarusman, salah seorang sahabat kental Singgih yang lain. Andi Mustmarusman bekerja di Pilar sebagai wakil pemimpin umum.

Berita yang lebih lengkap dilansir Metro Bandung. Di bawah judul “Wartawan Pilar Ditembak di Depan Istri dan Anaknya” dengan eye catching, “Diduga Terlibat Jual Beli Mobil Curian.” Metro meramu berita dengan mengutip saksi mata. Identitasnya tegas. Namanya jelas. Dari Jakarta, selain keterangan Andi, Metro mengantungi komentar Ahmed Kurnia Soeriawidjaja, pemimpin redaksi Pilar, sohib Singgih sejak bekerja di Tempo.

Tak hanya itu. Untuk memberi kesan dramatis, Metro memajang foto empat kolom istri korban yang sedang menangis di atas pusara makam almarhum. Di bawahnya, terdapat empat kolom ilustrasi kejadian bagaimana korban ditembak kakinya. Ilustrasi ini merekam keterangan dari tiga versi: polisi, istri korban, dan saksi mata.

Bagaimana koran-koran itu mempersepsi korban? Berbeda-beda, ternyata. Pikiran Rakyat dan Galamedia menyebut korban hanya dengan inisial saja, dengan atribusi “tersangka” khas terhadap mereka yang berurusan dengan perkara pidana. “Kita malah melunakkannya dengan menyebut ‘diduga tersangka’. Kasihan keluarganya. Lagi pula kan belum tentu salah-benarnya,” kata Ahmad Yusuf dari Pikiran Rakyat.

“Anda tahu yang tertembak itu wartawan Pilar, bekas wartawan Tempo?”

“Ya. Dari Rinny.”

Rinny yang dimaksud Yusuf, tak lain Rinny Srihartini, koresponden Tempo yang diijon Koran Tempo. Koran Tempo terbilang gencar memberitakan kasus ini, tapi sempat keseleo dalam memberitakan Singgih. Singgih dilaporkan bekerja buat suratkabar Pijar, bukannya Pilar.

Yang menarik, Koran Tempo tidak memberikan inisial terhadap jati diri Singgih. Demikian pula Tempo Interaktif dan Detikcom. Dua yang disebut terakhir adalah situs-situs berita terkuat di Indonesia, selain Kompas CyberMedia.

Satu-satunya koran lokal yang mengikuti cita rasa semacam itu adalah Metro Bandung.
Asal tahu saja, suratkabar ini berada di bawah jaringan pers daerah milik Kelompok Kompas Gramedia, yang dipimpin Sjamsul Kahar. Karena Kahar sibuk dengan suratkabar lain di Banda Aceh dan Timika, pertanggungjawaban Metro sehari-hari berada di tangan Yusran Pare, seorang wartawan muda yang berpenampilan tak kalah hancur dari Hari Pramono, redaktur kota Galamedia itu.

“Kenapa Anda tidak menginisialkan jati diri korban?”

“Kita tidak ingin terjebak bahasa hukum. Tepatnya, bahasa polisi,” jawab Yusran Pare.

Hampir dua pekan setelah penembakan Singgih, Metro dikunjungi kepala polisi Jawa Barat Inspektur Jenderal Syachroedin Z.P. Di sana, Syachroedin bilang, “Sebuah kasus kriminalitas tidak harus di-blow up secara sepihak, yang akhirnya menyeret keresahan di masyarakat.”

Sesungguhnya, siapa yang resah?

JALAN Wartawan III, Turangga, Bandung. Sebuah Kijang model baru warna gelap tampak parkir di depan gerbang rumah nomor 23. Lampu kendaraan tak menyala, tapi mesinnya tetap hidup. Pemilik rumah, Joko Hendrarto, biasa disapa Hendra, curiga.
Ia menegur penumpangnya, “Siapa ya?”

“Kami polisi.”

“Oo.”

Hendra, yang baru saja bertolak dari tempat tinggal orang tuanya yang hanya berjarak beberapa meter, melanjutkan langkah, hendak masuk ke rumahnya. Dari teras, ia melihat mobil berpenumpang lima orang itu bergerak pelan, melewati nomor 25, rumah yang dihuni Singgih sekeluarga.

Baru sepuluh hari Singgih mengontrak di situ. Sebelumnya Singgih tinggal di sebuah paviliun di Jalan Tubagus Ismail selama tiga bulan. Selaku pemilik rumah kontrakan, Hendra tak tahu siapa Singgih. Ia hanya mengenal Kenny, yang tak lain tetangga lamanya yang tinggal di nomor 5.

Malam itu referensinya tentang Singgih segera berubah.

Di tengah keasyikannya menonton Impresario 008 yang disiarkan RCTI, tiba-tiba Hendra mendengar teriakan, lalu gedoran pada pintu yang disusul rentetan tembakan. Ia dan istrinya, Dessy Ayuningsih, berpandang-pandangan. Antara was was dan ingin tahu, Hendra berjalan ruang tamu, mengintip ke luar.

Suasana mendadak tegang.

Di dalam rumah nomor 25, Kenny terkesiap.

Ia melihat sorot mata Singgih, waspada seperti hendak melindungi keluarga sepenuhnya sampai tampaknya Singih sadar ancaman justru terarah padanya. Naluri inilah agaknya yang menguasai alam bawah sadarnya untuk lekas-lekas menghindar dari bahaya.
“Polisi,” begitu hentakan suara terakhir Singgih sebelum ia berlari ke belakang rumah.

Singgih mencoba naik ke atap untuk bisa melompati branhang yang menghubungkan rumah tersebut dengan rumah tetangganya, Toto S. Harto, ketua rukun tetangga setempat. Hendra mendengar … bruk, bruk, bruk, … semacam suara kucing menginjak kencang atap rumah yang terbuat dari fiberglass.

Reio terbangun mendengar suara-suara gaduh. Syara kelihatan gusar. Kenny berteriak, “Rud, menyerah kamu! Menyerah!” serunya.

Dari balik kaca, Hendra melihat seorang polisi naik tembok pembatas rumah Singgih.
Terdengar letusan senjata genggam. Empat atau lima kali.

“Rud, menyerah kamu! Menyerah!” Kenny berseru demikian lantaran ia takut Singgih ditembak polisi. Pikirnya, hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan suaminya, “Paling dia hanya disiksa sebentar seperti di televisi.”

Singgih, yang berkaos oblong tipis warna putih dan berkolor putih garis-garis biru, sontak menghentikan usahanya. Ia turun dan memandang lekat-lekat istrinya dengan tatapan kosong. Kenny membimbingnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanan menenangkan Reio yang mulai menjerit-jerit. Syara pun demikian.

Di luar, delapan personil kepolisian di bawah pimpinan Inspektur Satu Zul Azmi, kepala Unit Bunuh Culik Kepolisian Daerah Jawa Barat, bersiaga. Di belakangnya, Brigadir Kepala Salatieli Hia, Brigadir Kepala Suwarna dan Brigadir Satu Sianturi, merangsek ke pintu masuk, bersiap hendak menangkap Singgih. Sisanya, menyebar mulai depan rumah Singgih sampai ekor jalan, tak jauh dari tikungan jalan. Mereka inilah yang memberi penjelasan kepada warga, “Ada pencuri yang harus ditangkap.”

“Rudi keluar kamu!” teriak Zul Azmi.

Zul Azmi pun memecahkan kaca jendela. Tangannya dirogohkan untuk membuka pintu. Sejurus kemudian, satu-satunya pintu masuk dari depan terbuka lebar. Dua… tiga… empat polisi menyeruak ke dalam rumah, mengacung-acungkan senjata, membentak Singgih untuk menyerah.

Setengah berteriak, Singgih buka mulut, “Saya menyerah … saya menyerah!”
Kedua tangannya diangkat. Ia melipatkannya di atas tengkuk.

“Ini suami saya, Pak. Jangan diapa-apakan. Dia sudah menyerah,” Kenny menenangkan suasana dari kegugupan, kecemasan.

“Diam kamu! Suami kamu maling, tahu!”

Singgih yang baru saja akan menekuk lututnya, langsung digelandang ke depan rumah, melewati kendaraan sedan Mazda yang baru saja ia parkirkan sekitar tiga jam sebelumnya.

Di dalam rumah Kenny masih tertahan badan-badan besar yang nyaris menutup lubang pintu.

“Mana HP!” bentak polisi.

“HP siapa?”

“Suami kamu!”

“Nggak tahu.”

“Tadi masih berdering.”

“Cari aja sendiri.”

Kenny melesat keluar. Panik, chaos, cemas, dan takut, campur aduk di kepalanya. Ia tak lagi memikirkan putra-putrinya.

Seorang perempuan yang membantu Kenny mengasuh anak-anaknya, gemetaran menenangkan Syara dan Reio yang menangis histeris.

“Ayah dibawa ke mana?” tanya Syara, di sela-sela tangisnya. Si pembantu tak bisa menjawab.

Seorang polisi menjelaskan kalau ayahnya ditangkap. Sempat-sempatnya ia menunjukkan tetesan darah kepada si kecil.

Di halaman yang sempit, Kenny menyaksikan suaminya diseret paksa. Dan beberapa saat kemudian … dor!

Dari jarak lima meter, Kenny mendengar suaminya mengaduh. Singgih terus diseret. Darah mengucur dari kakinya yang telanjang.

Dengan tertatih-tatih Singgih berjalan cepat mengikuti tangan-tangan kasar yang memaksanya. Darah mengalir makin deras, meninggalkan tetesan-tetesan. Ia seperti tidak mengindahkan rasa sakit. Matanya redup. Sekali dua kali mata itu melirik ke kanan kiri, mencoba menembus pemandangan di balik gorden-gorden rumah tetangga yang dilewatinya. Ia seakan hendak meminta tolong.

Seorang polisi memperlihatkan secarik kertas pada Kenny. “Saya polisi,” katanya. Hanya sekilas, Kenny tak bisa membaca apa isi kertas itu.

Berbekal surat itu pula polisi menyita “barang-barang bukti hasil kejahatan” berupa Mazda Cronos biru tua berpelat nomor polisi B 9277 SS. Dan, benda itu berpindah tangan ke polisi tadi, berikut surat-suratnya.

Dalam bagasi mobil ada sebuah tas pinggang berikut isinya, antara lain kartu kredit dan beberapa kartu ATM, handycam berikut filmnya di dalam tas, dan beberapa barang lainnya.

Penduduk berhamburan keluar rumah. Sebagian mengira ada peristiwa perampokan dan maling sedang diadili massa. Polisi-polisi ini memang tak berseragam.

“Ada apa ini?”seorang warga bertanya.

“Ini urusan polisi.”

Mereka menikung, mendekati gedung sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia cabang Jawa Barat, tempat mobil kedua polisi berjaga-jaga. Buat Kenny, itulah tikungan terakhir dirinya melihat Singgih masih bernyawa. Warga, demikian pula Kenny, tak tahu apa yang terjadi kemudian. Sebagian dari mereka mendengar letusan pistol satu kali.

Tapi tak seorang pun warga menemukan selongsong peluru bekas penembakan. Mungkin senjata yang digunakan untuk membunuh Singgih jenis revolver cartdridge 38 mm, sejenis senjata koboi di film-film wild wild west. Galibnya, selongsong langsung masuk ke dalam bulatan badan senjata yang berputar cepat, sebelum peluru muntah dari moncongnya.

Di pelataran rumah, Kenny terkulai lemas. Shock.

MESKI tak memiliki kekayaan yang berlimpah, Kenny merasa tak pernah kesulitan mendapatkan uang. “Rudi itu pinter cari uang,” katanya.

Dalam mencari uang, Singgih memang panjang akal. Celah sekecil apapun, yang buat orang lain muskil, dapat ia terobos. Ada cerita lucu di sini. Setidaknya, bagi Santoso, yang pernah bekerja buat majalah bawah tanah Independen.

Singgih suatu ketika berjualan kartu telepon. Kepada teman-temannya, Singgih berpromosi tentang chip miliknya yang dapat dipakai berhubungan telepon sesuka hati. Mau bicara lama atau sebentar, lokal-interlokal, harganya cuma Rp 100 ribu. Terbius promosi ini, banyak orang membelinya.

“Nggak tahunya tiga hari kemudian kartu itu diblokir. Nggak bisa dipakai lagi,” kata Santoso, tersenyum.

“Rudi menipu?”

“Enggaklah. Saya kira dia tertipu juga.”

Kapokkah Singgih? Tak pernah jelas juga. Yang pasti, Santoso tak mendengar lagi Singgih menawarkan barang.

Sempat terlintas di benak saya, jangan-jangan Singgih tertipu juga ikut bisnis mobil curian itu. Saya tak mendapatkan jawaban untuk soal ini. Dari Kenny, saya hanya mendapat keterangan bahwa Singgih sudah lama ingin menghentikan aktivitasnya itu. Ia berencana membuka outlet telepon genggam. Di mana tempatnya? Setahu Kenny, Singgih belum memutuskan. Yang ia tahu, Singgih sangat serius dengan niatnya tadi.

Si bungsu Coki mengungkapkan, dari serangkaian tindakan nekat Singgih, bisnis mobil itulah yang membuat keluarganya deg-degan sepanjang waktu. Hanya saja, keluarga tidak bisa melarang. Singgih punya argumentasi yang dapat diterima nalar sehat.

“Ini ada barang Rp 10. Gua bisa jual Rp 15. Apa salahnya? Gua toh nggak nyolong,” kata Singgih pada Ibob.

“Setahu saya,” imbuh Ibob, “orang hanya nelepon, dia beli. Lalu urus surat-surat, terus dijual.” Namun demikian, Ibob selalu wanti-wanti agar Singgih lebih berhati-hati dalam menjalankan bisnisnya ini.

Ibob sepertinya menangkap gelagat buruk dari sepak terjang adiknya. Lebih-lebih, sekitar sepekan sebelum tertembak, Singgih mengadu kepadanya. Ia mengeluhkan kebobrokan institusi kepolisian. Singgih sengaja dihabisi?

Kurang 24 jam setelah penculikan dan pembunuhan Singgih, para petinggi di lingkungan Kepolisian Daerah Jawa Barat menggelar pertemuan pers. Dalam kesempatan ini hadir antara lain Sardjono, kepala direktorat reserse, dan Asisten Komisaris Besar Dade Achmad, kepala dinas penerangan polisi Jawa Barat. Sardjono adalah atasan Zul Azmi dan kawan-kawan.

“Bintang tamu” kali ini adalah para tersangka yang dianggap berkomplot dengan Singgih. Suasana pertemuan pers juga disemarakkan dengan sejumlah barang bukti.
Sardjono mengungkapkan, Singgih sudah lama jadi target operasinya. Tidak hanya kepolisian Jawa Barat, tetapi juga Jakarta. “Rudi cs merupakan sindikat curanmor dan sudah masuk daftar target operasi,” ucapnya. Tak ada keraguan dalam kata-kata Sardjono.

Nama Singgih, lanjutnya, diperoleh dari pengembangan informasi. Mulanya, iklan di sebuah media. Pengiklan menawarkan sedan BMW berpelat nomor polisi B 1519 AJ.

Pemilik, yang identitasnya dirahasiakan polisi, melaporkan ini. Penyidikan pelan-pelan terarah kepada Sudiryan, warga Jakarta, selaku pemasang iklan.

Sudiryan mengatakan pada polisi, dia sekadar membantu memasangkan iklan. Pengiklan sendiri bernama Irwan, yang menurut Sardjono, adalah salah seorang teman Singgih. Irwan pun ditangkap. Berikutnya, polisi menggulung Sutoro Herlambang, pensiunan Pertamina Palembang dan anaknya, Andrianto. Ketiga-tiganya diketahui tinggal di Kompleks Margahayu Raya, Bandung.

Dalam penggerebekan lain, polisi menangkap pula Arnanda Adi Pratama alias Ucok, seorang tersangka pemalsu surat-surat kendaraan bermotor seperti STNK dan pelat nomor. Baik Irwan, Herlambang, Andrianto, maupun Ucok mengaku mengenal Singgih. Bahkan Ucok mengatakan, “Dia itu kelas berat, Pak.”

Menurut Herlambang, dia membeli kendaraan dari Singgih karena memang harganya “miring.” Malahan jauh di bawah harga pasar. Dia sempat curiga kenapa bisa berharga murah. Dengan tangkas, Singgih mengatakan kalau ia memperolehnya dari pelelangan.

“Kan banyak perusahaan bangkrut,” kata Herlambang, menirukan Rudi.

Percaya dengan itu, Herlambang membeli beberapa kendaraan dari Singgih. Terakhir, ia mendapatkan BMW. Tapi, olehnya, BMW yang hendak dipakainya sendiri belakangan dilego juga.

Apapun, dari tangan mereka, polisi menyita sejumlah kendaraan bermotor. Ini antara lain terdiri dari sejumlah sedan berkelas mulai BMW B 1519 AJ, Mitsubishi Galant B 2959 ZR, Nissan Terano B 1161 WL, dan Lancer B 1580 KD. Kendaraan lain didapat mencakup Isuzu Panther B 115 PL, Kijang 2000 B 8256 PL, Colt B 1304 KM, dan Mitsubishi Kuda B 2042 NI. Seperti juga BMW, seluruh kendaraan itu dijual dengan harga di bawah pasar. Panther misalnya, mereka jual Rp 75 juta.

Menurut Sardjono, kendaraan sebanyak itu paling banter hanya 25 persen dari total jenderal yang sedang digarap Singgih. Artinya, masih ada belasan lainnya yang sedang ditelusuri aparat kepolisian. “Dari catatan buku yang disita dari Rudi terdaftar nama-nama jenis mobil pesanan yang segera dikirim dan sudah ditandai oke. Tapi kami kehilangan jejak ke mana dikirimnya dan di mana mobil-mobil tersebut sebab tersangkanya keburu tewas,” ujarnya.

Sardjono mengatakan penembakan atas Singgih sebenarnya sangat “disesalkan.”
“Katakanlah dia penjahat. Tapi kenapa ia harus ditembak mati?” tanya saya kepada Dade Achmad, dalam kesempatan lain.

“Polisi menembak sudah sesuai dengan prosedur. Petugas kan sudah terlebih dulu memberikan tembakan peringatan. Tidak main tembak begitu saja. Tembakan diarahkan ke anggota tubuhnya karena tersangka melawan. Buat apa bawa-bawa pistol kalau itu tidak digunakan untuk membela diri,” kata Dade.

“Kenny bilang Rudi sudah tak berdaya?” tanya saya.

“Tersangka melawan,” Dade tetap pada jawabannya.

Sardjono sendiri sempat menuturkan, saat digerebek, tersangka mencoba melarikan diri. Dan ketika tertangkap, Singgih mencabut senjata tajam lalu menyerang.
Gara-gara serangan ini ibu jari Zul Azmi terluka.

Polisi pun melepaskan tembakan peringatan, tapi tak digubris. Tembakan lalu diarahkan ke betis Singgih. Sekalipun cedera dan mulai mengeluarkan tetesan darah, tembakan itu tak membuat Singgih menyerah, malah terus melawan. Polisi kembali mengarahkan tembakan ke kaki Singgih. Sangat berhasil … timah panas menembus perut Singgih dan perlawanannya pun selesai. Rudi ambruk. Polisi membawanya ke rumah sakit. Tapi terlambat.

Surahman, petugas rumah sakit, dalam keterangannya mengatakan menerima jenazah Singgih, Senin, 23 April 2001 pukul 23.48, dari Inspektur Dua Salatieli Hia. Sehari-harinya Hia bertugas di direktorat reserse kepolisian daerah Jawa Barat sebagai perwira Unit Buru Culik.

Jenazah Singgih memperlihatkan bahwa sebelum meregang nyawa, ia dipukuli dan ditembak.

“Saya tahu suami saya sudah meninggal malah bukan dari polisi. Saya mencari tahu semalaman,” tutur Kenny. Sebelum ke rumah sakit, Kenny memang sempat mengontak Boy S. Rahman, pamannya, sekitar pukul 05.00. “Kamu cepat ke Hasan Sadikin,” ujar Boy.
Bukan soal bersenjata atau tidak. Senjata yang dipakai Singgih pun memancing pertanyaan. Jadinya, polisi seperti sedang berakrobat. Hari ini sangkur, besok parang, lusa belati.

“Siapa bilang begitu. Belati kok. Saya lihat sendiri barang buktinya. Memang belati,” timpal Dade.

Saya mengira jangan-jangan itu sekadar perbedaan persepsi wartawan dalam mengidentifikasi senjata tajam saat pertemuan pers berlangsung. Tengok saja berita-berita yang dilansir berbagai media. Berbekal materi konferensi pers yang sama, Pikiran Rakyat dan Metro, misalnya, menulis “sangkur” sedangkan Galamedia menulis “belati.” Berita-berita tersebut diturunkan secara serempak pada 25 April 2001.

Saya pun enggan terlalu jauh membuat perkiraan. Sebab, dalam kutipan majalah Tempo, dengan jelas Sardjono menyebut, “Ia menggunakan senjata tajam semacam parang, hingga dahi seorang anggota polisi terluka.”

Belati, sangkur, atau parang, memang agak membuat saya pening. Ibu jari atau dahi? Luka Zul Azmi terjadi karena memecahkan kaca atau perkelahian? Lebih pening lagi ketika ucapan Kenny mendengung-dengung di kuping saya, “Suami saya ditangkap dalam keadaan tidak berdaya.” Ini pula yang disampaikan Kenny ke berbagai pihak, termasuk ke markas besar kepolisian Indonesia di Jakarta.

“Kami prihatin,” ujar Inspektur Jenderal Logan Siagian, kepala badan pembinaan hukum polisi, “kami siap menerima pengaduan.”

Sampai di sini, saya seharusnya mencatat, jika Singgih memang penjahat, betapa hebat ia. Sangat jarang seorang penjahat mendapat komentar-komentar simpatik dari sejumlah pejabat kepolisian.

ADA berita-berita linear, ada desas-desus yang berpilin-pilin. Saya mendapat kabar, kehadiran Singgih di Bandung dipicu oleh niatnya melakukan investigasi: menyelidiki jaringan pencuri kendaraan bermotor. Jaringan ini dibeking aparat. Selain pasang badan, bukan tidak mungkin mereka pun ikut “memetik” di lapangan dan menadahnya di belakang meja. Benarkah?

Saya penasaran. Tanpa janji lebih dulu, saya bertolak ke Gedung Danayasa Arthatama, di kawasan Sudirman, Jakarta. Tujuan saya mencari Yusuf Yazid. Syukur-syukur Yusuf dan kawan-kawannya mau omong tentang Singgih. Apa saja yang keluar dari mulut mereka pasti saya dengarkan.

Yusuf Yazid adalah figur anak muda. Saat ditemui ia mengenakan jins hitam dan kaos oblong hijau tua. Di lehernya melilit kalung emas campur platina, berbentuk tali lasso. Wajahnya fresh, suaranya meledak-ledak.

Saya diterima di ruangan yang nyaman, bersih. Di sayap kanan mejanya, saya melihat tumpukan arsip, disket, dan asbak berisi selongsong peluru.

Pria ini rupanya senang olahraga menembak seperti Singgih. Di kantornya ada foto memperlihatkan Yusuf tiarap mengokang senapan laras panjang. “Itu Rudi yang jepret,” katanya. Yusuf dan Singgih biasa latihan menembak di kompleks marinir, Cilandak, Jakarta.

Yusuf juga pemimpin perusahaan tabloid Integrasi, yang pada Oktober 2000, dihentikan penerbitannya. Artinya, Integrasi hanya berusia setahun. Seorang kawan berseloroh, “Orang lagi musim minta merdeka, ini mau integrasi. Ya nggak laku.”

“Apa benar Rudi sedang investigasi di sana?”

“Kepada temen-temen dia bilang lagi menyelidiki urusan besar. Gua rasa dia lagi jalanin itu juga.”

Benak saya berandai-andai. Seandainya Singgih benar-benar sedang menelusuri sindikat pencurian kendaraan bermotor, harusnya Aliansi Jurnalis Independen segera merevisi catatannya tentang jumlah korban jurnalis yang menjadi obyek tekanan polisi, baik secara fisik maupun nonfisik.

Di hari kebebasan pers sedunia, 3 Mei 2001, Aliansi Jurnalis Independen mencatat sekurang-kurangnya ada 18 wartawan Indonesia yang mendapat tekanan polisi, 10 berupa tekanan fisik, delapan nonfisik. Ini dalam periode 3 Mei 2000-3 Mei 2001. Jika ditotal dengan pelaku lainnya, tekanan terhadap wartawan seluruhnya berjumlah 104 kasus.

Persahabatan Singgih dengan Yusuf belum berusia 10 tahun. Mereka bertemu saat bersama-sama mengelola Merdeka Minggu.

Yusuf kemudian membawa saya jalan-jalan ke ruangan Singgih. Sepanjang yang saya lihat, tidak ada kegiatan yang berarti di ruang-ruang berpartisi itu. Beberapa orang sedang bersiap-siap untuk mengambil wudhu. Mereka akan bertahlil, mendoakan Singgih.
Ruangan Singgih terbilang luas. Ada empat meja warna abu-abu, salah satunya untuk Singgih. Meja Singgih terletak tepat di samping kanan pintu masuk. Sebuah kursi tanpa sandaran tubuh, terletak di depannya.

Di ruangan tadi, sedikitnya ada tiga lemari arsip. Dua besar, satu kecil. Di situ, terdapat foto-foto jurnalisme, baik yang dibuat Singgih maupun anggota desk-nya. Singgih sendiri menyimpan barang-barang pribadinya di dua dus besar.

Dus-dus itu umumnya berisi majalah dalam dan luar negeri. Ada tiga jenis majalah favorit yang biasa dibacanya: majalah menembak, fotografi, dan game. Berbeda dengan dulu, di mejanya sekarang tidak lagi dipajang foto-foto perempuan cantik setengah telanjang.

“Saya suka nyambangi dia bukan karena foto-foto itu tapi karena kopi, kue, dan kacangnya serta musik klasik atau jazz yang bersenandung sayup-sayup di sekitar tempat kerjanya,” begitu komentar Budiman S. Hartoyo.

SEKALIPUN medianya, Bandung Pos, sedang tiarap sejak Maret 2001 dan baru akan terbit kembali Juli depan, Bambang Ganefa tetap rajin mengunjungi kantor-kantor polisi; beat-nya sehari-hari. Kali ini, ia datang ke sana dengan membawa bendera radio Mora sebagai reporter paruh waktu. Setiap item berita dihargai Rp 10 ribu.

Dari pria berwajah keras ini saya mendapat informasi kecil: prosedur tembak di tempat sudah dihentikan di seluruh Jawa Barat. Ia menceritakan, Taufik, reporter radio Mora awal April 2001, berkesempatan mengikuti kunjungan kerja polisi nomor satu Jawa Barat Inspektur Jenderal Syachroedin Z.P. ke wilayah Banten. Di sana, Syachroedin memberi petunjuk ini-itu, tak terkecuali perintah penghentian tembak di tempat. Dia minta seluruh anggota kepolisian di bawah komandonya untuk mengedepankan pendekatan persuasif dan edukatif. Taufik membenarkan itu.

Saya masih ragu. Kepada Dade, saya melontarkan pertanyaan yang sama. “Sami mawon,” Dade meneguhkan hal yang disebut Taufik. “Penembakan di tempat dilakukan jika memang tersangka membahayakan. Tapi kan prosedur ini sudah dihentikan,” ujarnya.
Diamanati atau tidak, penembakan terhadap tersangka pelaku kejahatan memang tidak bisa diumbar seperti di film. Koesparmono Irsan, bekas deputi operasi kepolisian Indonesia, sering mengingatkan hal itu pada para juniornya.

Koesparmono mengatakan ada prosedur tertentu yang harus dilewati ketika polisi menggerebek rumah orang yang diduga menjadi tempat persembunyian bajingan. Polisi bisa saja mendobrak pintu bila penjahat menolak keluar rumah. Setelah tertangkap, polisi bisa memukulnya untuk melumpuhkan bila si penjahat memberontak atau hendak melarikan diri. Pemukulan juga bisa dilakukan jika dia tidak mau dimasukkan ke dalam kendaraan pembawa tahanan.

Kapan tembakan dilepaskan? Tentu saja jika polisi sudah kewalahan akibat tersangka hendak melarikan diri. Ini pun harus didahului tembakan peringatan minimal tiga kali. Jika masih tetap membandel, baru tembakan satu kali pada satu kaki. “Jika penjahat tetap lari juga, tembakan dapat dilakukan ke kaki lainnya,” ujar Dade, menggenapi.

Bila semua upaya tadi menemui kegagalan, polisi baru menembak anggota badan lainnya. Tapi, ini pun dalam upaya melumpuhkan.

Teori tinggal teori. Kenyataan di lapangan berbunyi lain. Lihat saja, sepanjang April, polisi seperti keranjingan pesta tembakan. Belasan korban tersangka penjahat diterjang timah panas yang berloncatan dari moncong senjata mereka.

Sepekan sebelum Singgih disikat, polisi menembak komplotan yang disangka pencuri. Asep Saputra Wijaya alias Ferry Gondrong, Achmad Suadi, dan Yulius Dedi, rebah di bumi. Kasus ini tak urung memantik kontroversi. Keluarga Yulius Dedi bingung sebab anaknya, yang bertitel insinyur, itu tak pernah punya catatan kriminal. Jangan-jangan, kata ayah korban, polisi salah sasaran.

Hiperaktifnya polisi Bandung dalam menembak tersangka, atau bahkan masih dalam status diduga tersangka seperti Singgih, itu mendapat perhatian serius Lembaga Bantuan Hukum Bandung. Berkali-kali Lembaga Bantuan Hukum Bandung melansir pernyataan sikapnya agar polisi tidak sembarang main dor.

Haneda Sri Lastoto, direktur Lembaga Bantuan Hukum Bandung, yakin Indonesia sudah memahami kovenan-kovenan internasional mengenai penggunaan senjata api oleh polisi. Taruhlah kovenan tentang Prinsip-prinsip Dasar tentang Penggunaan Kekerasan dan Senjata Api oleh Aparat Penegak Hukum. Buktinya, Indonesia sudah mampu membuat prosedur standar untuk penanganan masalah.

Prosedur pemakaian senjata api itu, jika ditilik dengan seksama, berhimpitan dengan semangat yang tertuang dalam kovenan tersebut. Celakanya, prosedur yang dibuat dipahami sepotong-sepotong. Lebih celaka lagi, ketika berada di lapangan, ia sering diabaikan. “Siapa yang bisa memastikan kalau polisi nembak sesuai prosedur. Dalam banyak kasus, peristiwa penembakan hanya melibatkan tersangka dan polisi. Tak ada saksi dari masyarakat,” kata Haneda.

Dalam pandangannya, selain merusak pranata hukum, perilaku asal dor bisa berdampak serius pada usaha polisi mengungkap kejahatan. Gamblangnya, rantai penyelidikan bisa terputus dan polisi mengalami jalan buntu untuk meredam kejahatan.

Lebih dari ini Haneda cemas kalau-kalau setiap pembunuhan oleh polisi pada akhirnya dijustifikasi sebagai upaya penegakan hukum. “Padahal, bisa terjadi sebaliknya. Tersangka dilepas untuk ditembak. Dalam laporan, tersangka melarikan diri dan melawan. Ini bahayanya,” katanya.

Ia tidak menuduh polisi berlaku demikian dalam kasus Singgih. Tapi, Kenny sejak awal melihat Singgih sudah tidak berdaya ketika diseret paksa oleh polisi. Ia pun tidak membawa sangkur, parang, atau belati sebagaimana disebut-sebut polisi. “Sejak dari rumah dia sudah mengangkat tangan. Di mana senjata itu disembunyikan. Ia cuma pakai kaos tipis dan celana kolor kok,” katanya.

AHMED Kurnia Soerawidjaja, rekan sekantor Singgih dari majalah Pilar, mengatakan sedang mengumpulkan fakta-fakta nyata mengenai peristiwa tersebut. Untuk maksud ini, ia berkoordinasi dengan lembaga-lembaga pers dan keluarga almarhum. Di pihak lain, keluarga almarhum, taruhlah Kenny, menyambut upaya semua pihak yang berkeinginan melihat tegaknya hukum di tanah air. “Saya dan keluarga, tetap akan melakukan upaya-upaya hukum guna mendapatkan kejelasan apa yang menyebabkan nyawa suami saya dicabut begitu saja, seperti manusia menyembelih ayam,” tuturnya.

“Kita nggak keberatan bila keluarganya akan mengadukan masalah ini. Silakan lapor dan mengadu ke Provos, Irpolda, atau ke Diskum kalau memang keluarganya kurang senang atas tindakan yang dilakukan petugas,” sambut Sjahroedin, orang nomor satu di kepolisian Jawa Barat, yang secara institusional, seharusnya paling bertanggung jawab atas tertembaknya Rudi Singgih.

Dipersilakan atau tidak, semangat Kenny untuk memperoleh keadilan seolah tak pernah padam. Ia berlari ke sana kemari mendatangi berbagai institusi yang bisa diajak bicara.

Kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, misalnya, Kenny mengajukan testimoni. Koesparmono Irsan dari Komnas HAM minta keluarga Singgih mengumpulkan bukti serta saksi. Meski belum mendapatkan data-data lengkap, komisi ini meraba adanya pelanggaran hak asasi manusia. Polisi, timpal Paskah Irianto, kuasa hukum Kenny, setidaknya melanggar pasal 503 kitab undang-undang hukum pidana yaitu melakukan penyiksaan hingga tewasnya seseorang.

Sebelum menemui Komnas HAM di Jakarta, Kenny beberapa kali menginjakkan kaki ke pihak-pihak berwenang untuk mengumpulkan bukti sekaligus menanyakan nasib perkara yang menimpa almarhum. Empat hari setelah kejadian nahas itu, Kenny menginjakkan kaki di markas Detasemen Polisi Militer Bandung. Letnan Satu CPM Sugiyono menerimanya di suatu pagi. Sugiyono berjanji menelusuri pengaduan Kenny. Pada hari yang sama, Kenny pun bertolak ke markas polisi Jawa Barat dan diterima Asisten Komisaris R. Wahyu Irawan.

Selang empat hari kemudian, Kenny menanyakan tindak lanjut dari pengaduannya. Tak ada yang berubah. Polisi militer tetap menerimanya dengan ramah, polisi pun demikian. Namun, dari situ Kenny menemukan kenyataan: tak seorang pun di antara pelaku penggerebekan yang ditahan.

BANDUNG punya Cimahi, kota militer. Tasikmalaya punya Singaparna, kota santri.

Singaparna terletak 90 kilometer dari Bandung arah selatan. Di kota kecamatan ini bertebaran kantong-kantong pesantren. Sebut saja di Cipasung asuhan KH Ilyas Ruhiyat yang sesepuh Nahdlatul Ulama, di Cintawana asuhan Ustadz H. Ahu yang kader Persatuan Islam, atau di Sukasukur asuhan Ajengan H. Badruzaman yang nonpartisan. “Di sini siapa saja boleh ngaji. Mau NU, Persis, atau Muhammadiyah, semua diterima dengan tangan terbuka,” ungkap Badruzaman. Di sini pula Singgih mengasah diri.

Badruzaman, akrab disapa Kang Haji, lahir di Sukaregang, Garut, tahun 1959. Ayahnya, Ajengan H. Sulaeman, pengasuh pondok pesantren Al-Ikhlas. Pesantren ini terletak di Jalan Ahmad Yani, pusat kota Garut. Ayahnya, demikian pula ibunya, Hajah Romlah, sepakat mengirimkan anaknya ke pesantren lain setelah ia menggemblengnya hingga usia 10 tahun. “Sejak usia delapan tahun, saya sudah bisa dakwah. Saya disebut kiai kaset, karena saya pintar menirukan dai-dai dengan hanya mendengarkan,” kata Kang Haji, mengenang masa kecilnya.

Perkenalan Kang Haji dengan Singgih dimulai dari sebuah kebetulan. Saat itu, tahun 1999, Kang Haji mengisi pengajian di Pondok Labu, Jakarta. Pengajian ini rutin, sebulan sekali. Kebetulan Singgih berada di sana, mengantar salah seorang anggota keluarganya. Mereka berkenalan, tapi kemudian terputus.

Selang tiga bulan, mereka bertemu lagi. Kali ini di rumah Alfan Baharudin. Alfan, seorang prajurit marinir berpangkat kolonel, yang tak lain paman Singgih. “Kalau tidak salah kita bertemu di Priok,” kata Kang Haji. Dari situ, Kang Haji melihat ketertarikan Singgih mempelajari agama. “Pak Rudi ini mualaf. Baru masuk Islam setelah nikah dengan Neng Kenny,” ungkapnya.

Alfan Baharudin sendiri menurut Kang Haji mendorong-dorong Singgih untuk secara tekun mempelajari Islam, sehingga tidak ada keraguan lagi dengan keyakinan yang dianutnya. Lebih dari itu Alfian berharap Singgih dapat hidup lebih tenang. “Duit kamu sebaiknya investasikan juga untuk akhirat,” saran Alfian.

Singgih nunut. Ia mulai mengundang Kang Haji ke tempat tinggalnya di Cinere, Jakarta. Kang Haji ingat, setiap datang ia selalu disambut antusias. Walau Singgih belum lagi mau shalat, ia punya sajadah. Sajadah inilah yang selalu digunakan Kang Haji waktu hendak shalat. Dan Singgih kadang-kadang menggelarkannya tanpa diminta. Ia sangat hormat pada Kang Haji.

Melihat anak didiknya belum lagi melaksanakan shalat, Kang Haji tidak mengomel, apalagi menyuruh-nyuruhnya. “Allah pasti memberikan cahaya padanya,” katanya. Dan benar, belum setahun, Singgih sudah mulai belajar wudhu, lalu belajar shalat.

Berikutnya, Singgih terlihat shalat lima waktu, meski kadang bolong-bolong.

Sejak sekitar Januari 2001, gantian Singgih yang mengunjungi Kang Haji. Jika pada saat bersamaan Kang Haji harus keluar kota, Singgih tak segan-segan menyopirinya. Ia melayani dengan baik, lengkap dengan guyonan-guyonannya. “Tapi saya lebih baik mengundurkan acara bila Pak Rudi datang,” ujarnya. Ia lantas menunjuk sebuah kolam, di seberang pesantren, terpisahkan oleh Jalan Raya Sukasukur, “Pak Rudi biasa memancing dan bakar ikan di situ.”

Pesantren Kang Haji bernama Sabilul Huda Warosyaad, yang didirikan tahun 1996. Tidak mentereng-mentereng amat. Maklum, pesantren ini dibangun oleh keringatnya sendiri, dari bercocok tanam, kadang-kadang dari infak sehabis dia berceramah.

Di sana, para santri belajar banyak hal, bekal untuk akhirat.
Santri-santri ini umumnya berasal dari wilayah pesisir Selatan, mulai Taraju, Singajaya, Cikatomas, Salopa, hingga Cikalong. Dari luar kota, mereka berasal dari Subang, Majalengka, Cianjur, Sumedang, dan Garut.

Catatan per April menunjukkan, jumlah santri yang mengaji di sana berjumlah 202 orang: 80 perempuan dan sisanya laki-laki. Satu kamar berukuran sekitar 3 x 4 meter persegi, bisa dihuni 7 – 9 orang. Sebagian lagi dititipkan di rumah penduduk setempat.

“Rencananya, Pak Rudi akan membebaskan dua rumah itu. Pemilik sudah setuju,” kata Kang Haji, sambil menunjuk dua rumah, yang berada di samping kobong (asrama) laki-laki. Saya sengaja wawancara sambil berjalan-jalan untuk mengirit waktu kunjungan, sekaligus mendapatkan privasi dari tamu-tamunya yang mulai berdatangan, siang itu.

Luas pesantren Sabilul kini kurang lebih 130 bata atau 1.820 meter persegi. Di tanah ini berdiri tiga bangunan utama, kobong laki-laki dan kobong perempuan serta sebuah masjid. “Pak Rudi yang membangun kobong perempuan dan masjid itu,” katanya lagi.

Pembangunan dilakukan secara bertahap, sejak empat bulan lalu. “Biar tidak terlalu membebani masyarakat,” demikian dalih Singgih ketika menyampaikan kesanggupannya.
Kang Haji bercerita bagaimana ia melihat Singgih untuk terakhir kali. Empat hari sebelum tewas, Singgih datang mengunjunginya. “Jangan banyak pikiran Kang,” kata Singgih.

Senin 23 April 2001, di hari H penembakan, telepon genggam Kang Haji merekam nomor Singgih. Mereka terlibat pembicaraan panjang. Inti yang sempat dicatat Kang Haji: Singgih sedang berusaha membebaskan temannya, yang ditahan polisi.
“Hati-hati,” Kang Haji bilang.

Pukul 13.00 atau tiga jam kemudian, Kang Haji mendapat firasat buruk. Ia mengontak balik Singgih dan menyuruhnya keluar dari Bandung.

“Anak-anak saya resah,” ucapnya.

Anak-anak yang disebut olehnya adalah makhluk-makhluk peliharaan Kang Haji yang jati dirinya tak saya pahami.

Pukul 19.00 Kang Haji kembali mengontak Singgih. Telepon genggam Singgih tak bisa dihubungi. Kang Haji merasa Singgih masih di Bandung dan dia perlu memberi “instruksi” ulang agar Singgih menyingkir dari Bandung.

“Anak-anak saya mulai liar. Piring hitam terbang ke sana kemari. Saya panik juga,” ungkapnya, “Saya merasa Rudi sedang diancam bahaya. Kepastian itu baru saya peroleh pukul 01.00. Dari Neng Kenny.”

“Saya lemas, sedih,dan haru. Bagaimana nanti mereka makan?” akhir kalimat Kang Haji hampir tak terdengar.

Yang dimaksud “mereka” oleh Kang Haji adalah 25 anak yatim-piatu yang nyantri di sana. Mereka masih kecil-kecil. Paling besar berusia 11 tahun. Mereka sama sekali tak dipungut bayaran. Pakaian dan makan-minum sepenuhnya ditanggung Singgih. ***

Majalah Pantau, Reporter dari Lapangan, Juni 2001


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: