Aliansi Jurnalis Independen


Lima Bulan Terjadi 43 Kasus Kekerasan Terhadap Jurnalis
September 2, 2004, 1:20 pm
Filed under: Berita

Solo, Bernas – Dalam kurun waktu 5 bulan terhitung sejak Januari hingga Mei 2000 telah terjadi 43 kasus tekanan dan kekerasan terhadap jurnalis dan media. Tindak kekerasan sekarang ini justru dilakukan oleh masyarakat sebanyak 24 kasus, sedang polisi, tentara dan pejabat pemerintah hanya 17 kasus.

Demikian Sekretaris Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) Didik Supriyanto saat melantik pengurus AJI Biro Surakarta, di Monumen Pers Nasional (MPN), Sabtu (2/9).

Dikatakan, jika pada era sebelumnya ancaman kebebasan pers datang dari institusi negara seperti polisi, militer dan birokrasi, namun di era sekarang ini, ancaman justru sebagian besar berasal dari kelompok masyarakat.

“Masih adanya tekanan atau kekerasan itu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya siap menerima kebebasan pers,” katanya.

Bentuk tekanan atau kekerasan terhadap jurnalis, lanjut Didik, dikategori menjadi dua yakni kekerasan fisik dan non fisik. Tekanan fisik meliputi penganiayaan, pemukulan, penculikan dan perusakan fasilitas media. Sedangkan tekanan non fisik di antaranya pelecehan, penghinaan, ancaman, teror, larangan peliputan dan gugatan hukum. Pemukulan dan penganiayaan sering terjadi saat jurnalis meliput demonstrasi dan wilayah konflik seperti terjadi di Aceh dan Maluku.

Saat ini sedang trend, elit politik menggunakan orang-orang khusus untuk menghalang-halangi jurnalis melakukan konfirmasi. Mereka ini selain melakukan kekerasan fisik juga sering menghina dan melecehkan para jurnalis. Contoh paling kongkret tindakan yang dilakukan Walikota Bandung melecehkan jurnalis. Ancaman dan teror biasanya dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam kasus korupsi, kolusi dan nepotisme.

Sebagai penyampai informasi, jurnalis dan media memang potensial menjadi musuh para pejabat dan mantan pejabat publik yang berperi laku buruk, mulai yang terlibat sex affair kolusi-korupsi hingga pelanggaran hak azasi. Mereka menakut-nakuti dan mengancam baik lewat pembantunya yang resmi maupun tidak resmi, agar jurnalis tidak meneruskan kerjanya membeberkan informasi yang bisa merugikan dirinya.

Sayangnya masyarakat yang dulu menginginkan adanya kebebasan pers, ternyata tidak siap menghadapi segala konsekwensinya. Mereka tidak siap dengan membanjirnya informasi yang dilansir media, apalagi yang menyangkut kepentingan dirinya.

Bila informasi bernilai positip bagi dirinya, media dipuji-puji, dikliping bahkan difoto kopi untuk disebarluaskan. Sebaliknya kalau informasi itu tidak sejalan dengan kepentingannya, mereka marah, protes terhadap jurnalis dan media. (hst)

http://www.indomedia.com/bernas/2009/04/UTAMA/04jat2.htm


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: