Aliansi Jurnalis Independen


Antara Pembatasan dan Pemerasan
January 14, 2005, 11:58 am
Filed under: Berita

Jum’at, 14 Januari 2005 | 23:55 WIB

TEMPO Interaktif, Banda Aceh:Caroline O Doherty, jurnalis dari harian Irish Examiner, sebuah harian dari Irlandia, merasa terganggu dengan registrasi setiap hari yang harus dilakukan oleh setiap warga asing yang berada di Aceh jika ingin pergi ke setiap tempat di Banda Aceh.

Ia mengaku perjalanannya sebagai jurnalis tidak bisa direncanakan secara pasti. “Saya bisa saja melapor ke suatu tempat pengungsi, tapi tiba-tiba di jalan saya melihat sesuatu yang menarik, apakah salah jika saya ingin tiba-tiba ingin meliput sesuatu yang menarik yang tidak diagendakan,”kata Caroline, Jumat (14/1).

Perempuan asal Irlandia yang baru saja tiba di Banda Aceh kemarin ini mengatakan sangat mengerti atas perhatian pemerintah terhadap warga asing yang berada di Aceh saat ini. “Tapi saya jurnalis, ini pilihan saya, saya tahu resikonya,”ujar Caroline. Jika boleh memilih, ia akan memilih untuk bebas meliput kemanapun insting jurnalisnya membawa. “Saya pilih untuk bebas meliput,”kata perempuan bermata biru ini.

Lain halnya dengan Laura Conrad, warga asing dari organisasi internasional Save the Children ini mengaku tidak ada masalah dengan registrasi setiap bepergian di Aceh. Ia juga tidak protes terhadap travel restriction yang dilakukan pemerintah Indonesia bagi warga asing ke tempat-tempat di luar Banda Aceh dan Aceh Besar. Ia mengaku kebijakan pemerintah ini tidak akan menggangu kerjanya. “Kami bekerja normal, seperti hari-hari kemarin,”kata Laura.

Lain lagi cerita, seorang jurnalis asal Thailand Pho Nha Lie, yang menyewa kendaraan dari Medan. Di perbatasan Sumatera Utara- Aceh dihentikan tentara bersenjata. Setelah bertanya soal pekerjaan, dan identitas, tentara pemeriksa itu menanyakan surat jalan. “Saya bilang saya nggak punya surat jalan, saya kesini untuk meliput dari dekat korban yang begitu besar,”katanya. Tetapi tentara itu tak mau tahu dengan jawaban itu.

Sopir yang membawa rombongan itu, ada 5 penumpang, minta Nha memberikan uang pada tentara itu. Tentara tersebut minta Rp 100.000 perorang, tetapi Nha, tak mau memberi, ia hanya mau memberi Rp 50.000. “Saya ada uang, tetapi bukan untuk anda, buat korban,”ujar perempuan yang bisa sedikit berbahasa Indonesia.

Akhirnya, tentara itu menerima uang dari 5 penumpang mobil yang diisi berbagai jurnalis dari Asia (Korea, Thailand, Filipina dan Singapura). Dan rombongan itu boleh melanjutkan perjalanan sampai pemeriksaan militer berikutnya. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengecam cara-cara TNI membatasi kerja para Jurnalis di Aceh. “Akses informasi itu harus dibuka luas biar masyarakat mengerti apa yang terjadi di Aceh,”kata Ketua AJI Indonesia, Eddy Soeprapto.

Commmittee to Protect Journalists yang berbasis di Ner York juga mengutuk cara-cara pembatasan itu.”Kami berharap pemerintah Indonesia menghentikan pembatasan jurnalis meliput di Aceh, daerah yang kini terkena bencana yang sangat memilukan,”kata Direktur Eksekutif CPJ Ann Cooper.

Poernomo G. Ridho


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: