Aliansi Jurnalis Independen


Perempuan Indonesia dan Ibu Menteri
April 1, 2005, 2:41 pm
Filed under: Uncategorized

Kompas, Jumat, 01 April 2005

Pameran Foto “Perempuan Indonesia dalam Bingkai”
Perempuan Indonesia dan Ibu Menteri

DEMIKIAN, sore itu Srintil menari dengan mata setengah tertutup. Jari tangannya melentik kenes. (Ronggeng Dukuh Paruk: Ahmad Tohari)

Ahmad Tohari mengisahkan Srintil, gadis kecil yang “ditakdirkan” menjadi ronggeng yang memabukkan setiap lelaki, dengan cara yang mengesankan. Seluruh lanskap pedusunan-antara lain: penduduk desa, tanah, dedaunan, serangga, tetabuhan gamelan, dan juga udaranya-diceritakan begitu detail dan hidup.

TERHADAP trilogi Ronggeng Dukuh Paruh itu, Sapardi Djoko Damono, sastrawan dan guru besar Universitas Indonesia, berkomentar, “.… latar, peristiwa, dan tokoh-tokoh yang terdiri dari orang-orang desa yang sederhana digambarkannya dengan menarik, bahkan tidak jarang sangat menarik”.

Pada tingkatan yang sama, bahkan (barangkali) bisa lebih, fotografi pun menunjukkan visualitas yang detail, hidup, dan menarik. Sepenggal realitas dalam foto bisa menjadi kian hidup dan menjejakkan memori mendalam dalam benak pemandang. Pada kenyataannya, para pemandanglah yang menghidupkan realitas dan mengalirkan waktu yang terbekukan dalam selembar foto. Tak peduli apakah, dalam praktiknya, foto itu dihasilkan dengan cara “mata setengah tertutup” ataukah “membelalak”.

Persoalannya ialah: tatkala fotografi atau aktivitas memotret telah menjadi praksis gaya hidup (instan) bagi sebagian masyarakat urban kita, adakah tata nilai yang disodorkan tidak sekadar pergunjingan permukaan saja.

Menarik untuk mencermati Pameran Foto “Satu Indonesiaku”, subtema “Perempuan Indonesia dalam Bingkai” yang akan digelar di Plaza Semanggi, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, 6-17 April 2005 mendatang. Sebanyak 156 lembar foto dipamerkan di sana.

Pameran foto-yang didedikasikan kepada organisasi pemberdayaan perempuan Pekka (Program Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga)-ini digagas dan ditujukan sebagai bentuk apresiasi terhadap ikon perempuan Indonesia: RA Kartini.

Inilah sebuah pameran foto yang melibatkan 12 orang dengan profesi utama mereka yang berlainan: pelajar SMA, mahasiswa, profesional muda, wanita karier, pensiunan, pedagang, jurnalis, seniman, dan para peneliti (pascasarjana S2 maupun S3). Para fotografer yang terlibat adalah Agatha A Bunanta, Arbain Rambey, Bernardo Halim, Budi Darmawan, Damon Rizki, Goenadi Haryanto, Imam Tjahjono, Kristupa Saragih, Lukas Setia Atmaja, Riza Marlon, dan Tatang Christanto.

Bahkan seorang menteri ikut serta di sana, yakni Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia Dr Meutia Farida Hatta Swasono.

Indonesiana

Sejumlah besar foto yang dipamerkan itu mempertontonkan keindahan yang etalatif. Sungguh menawan mata dan, ibaratnya, jajaran pakaian atau sepatu mengilat di sebalik kaca gerai-gerai mal yang benderang.

Foto-foto yang indah dan eye-catching itu separuhnya adalah foto pemandangan atau kehidupan masyarakat kita sehari-hari. Ada foto lanskap Bromo, rerimbunan bambu di tepi sungai, galur-galur (padang) pasir pantai, lingkungan hidup, aktivitas pasar, sekolah, sudut-sudut desa, perahu, seni budaya, suasana peribadatan vihara, atau Monas yang bermandikan cahaya lampu sorot. Seluruh foto itu khas mendendangkan puja-puji Indonesiana: citraan dari realitas keindahan alam dan eksotika kultur Tanah Air.

Aha, ada foto yang mengundang senyum pemandang: tingkah orangutan yang sedang nyengir. Bandingkan foto karya Riza Marlon itu dengan salah satu foto Arbain Rambey, yakni seorang ibu bertutup kepala handuk kecil dengan deretan giginya yang eksotis.

Separuh lagi foto yang dipamerkan menampilkan penggalan peran dan sosok perempuan Indonesia, terutama setting perempuan pedesaan yang bekerja dalam ranah domestik atau sektor ekonomi informal. Lihat saja deretan foto ibu-ibu yang melintas di jembatan bambu di Pundong, Yogyakarta.

Sisanya adalah profil perempuan Indonesia kebanyakan. Mengesankan dan sangat lugu, betapa ibu-ibu tertawa lepas mempertontonkan gusi dan orkestrasi giginya. Begitu juga wajah-wajah sumringah khas masyarakat rural kita.

Di antara deretan foto yang dipamerkan, terselip karyakarya Ibu Menteri. Secara jeli Meutia Hatta Swasono membidikkan kameranya. Kain selendang batik lusuh pada foto “Kasih Sayang Ibu ada di Mana-mana” menjelaskan posisi perempuan pemakainya. “Mencari Nafkah Saat Matahari Pagi Mulai Menyinari Bumi” dan “Perempuan Alor dalam Festival Budaya” menunjukkan dengan jelas pilihan estetiknya.

“Panik” karya Goenadi Haryanto-seorang ibu menggendong anaknya yang terluka-meski mendedahkan kekalutan yang mencekam, toh tampil dalam frame yang elok. Kegetiran lingkungan hidup, “Di Tepi Mahakam”, juga berkesan amat kenes.

Foto-foto “Menatap Masa Depan” (Agatha A Bunanta), “Seperti Tertulis” (Bernardo Halim), “Kecak Dance” (Budi Darmawan), “Pray” (Damon Rizki), “Reflection” (Imam Tjahjono), “Ada Baju di Sepeda” (Kristupa Saragih), dan “Traffic Jam” (Lukas Setia Atmaja) membawa pesan yang kuat dan sekaligus artistik.

Secara umum karya-karya para fotografer itu-dengan gagasan yang sederhana-menampakkan kualifikasi teknis dan capaian artistik yang mengagumkan. Tentu saja keindahan dalam konteks linearitas estetika.

Kemanusiaan

Dari sekian banyak foto “manise” yang ditampilkan, mencuat satu-dua karya yang mengundang imajinasi pemandang. Foto “Addicted” (Bernardo Halim), misalnya, membuat kita bertanya-tanya, ada relasi apakah antara torso gadis belia-yang memakai hotpant dengan pinggang terbuka-dan teks “keranjingan”. Karyanya yang lain, jajaran tiga gantungan baju “Kita adalah sahabat”, menimbulkan asosiasi yang menggugah.

Selain itu, ada satu foto dengan visualitas yang sangat masif. “Kehidupan” (Tatang Christianto) menggambarkan sesosok ibu berpakaian lusuh (pengemiskah?) tengah menengadahkan tangannya di siang bolong. Kerut keriput wajah itu memendam drama manusia papa Indonesia. Sebuah foto yang humanistis.

Kembali pada Ronggeng Dukuh Paruk. Cerita tentang Srintil adalah kisah keindahan sesosok ronggeng desa. Namun, pengarangnya tidak semata-mata mendongengkan kekenesan yang banal, melainkan juga sisi-sisi kemanusiaannya yang terdalam, bahkan tragika seorang Srintil.

Begitu pula, seyogianya, jari-jari lentik para fotografer itu tak sekadar piawai mengeksplorasi kulit luar artistika, sekaligus pula bilik terdalam kemanusiaan kita.

TUBAGUS P SVARAJATI Anggota Pewarta Foto Indonesia (PFI) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: