Aliansi Jurnalis Independen


Terpegang Slamet karena Sapi
October 9, 2006, 11:14 am
Filed under: Berita

Edisi. 33/XXXV/09 – 15 Oktober 2006

Salah seorang tersangka pembunuh Herliyanto, wartawan tabloid Delta Post di Probolinggo, tertangkap dua pekan lalu. Dia mengakui perbuatannya.

DI Alun-alun, Ranuyoso—sebuah desa di Lumajang, Jawa Timur—Slamet dikenal sebagai buruh tani pendiam dan tak banyak tingkah. Tetapi dalam catatan Kepolisian Resor Probolinggo, kabupaten tetangga Lumajang, Slamet masuk daftar bramacorah. Pria 40 tahun itu dituduh mendalangi beberapa pencurian hewan.

Hanya, penyidik harus memutar otak untuk menangkap Slamet. Dia beraksi hampir tanpa bekas. Jejaknya baru tercium setelah ”kolega”-nya dalam kasus pencurian sapi di Desa Liprak Wetan, Banyuanyar, pada Desember 2005 dibekuk polisi. ”Kami telah menangkap tiga temannya,” kata Ajun Komisaris Syamsul Arifin, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Probolinggo.

Tiga kawannya mencuri sapi itu dicokok polisi pada September lalu. Mereka menuding Slamet sebagai bosnya. Pengakuan ini menjadi pegangan Syamsul. Lalu dia mengirim anak buahnya ke Desa Alun-alun pada 27 September lalu. Slamet sedang berada di rumahnya. Dia terkejut melihat polisi mendekat. Dia mencoba kabur tapi badan telanjur terkepung.

Jika hanya pencurian sapi yang dihadapinya, Slamet bisa lebih santai. Tetapi Kepala Polres Probolinggo, Ajun Komisaris Besar Nana Sudjana, menemukan petunjuk keterlibatan Slamet dalam kasus yang jauh lebih serius: pembunuhan wartawan tabloid Delta Post, Herliyanto, 40 tahun, pada 29 April lalu.

Polisi telah menelusuri kasus ini sejak warga menemukan jenazah sang wartawan tergeletak di hutan jati resor pemangkuan hutan Kleneng, Probolinggo. Ususnya terburai, kepalanya terkulai dengan tengkuk robek, ubun-ubunnya koyak.

Sepeda motornya tergeletak di tepi jalan. Isi dompetnya masih utuh. Hanya SIM card di dalam telepon selulernya yang raib. Dari temuan barang bukti itu, polisi memastikan bahwa warga Desa Tarokan, Banyuanyar, itu tewas bukan karena perampokan.

Sejumlah wartawan di Probolinggo menduga pembunuhan pria yang akrab disapa Heri itu berkaitan dengan liputannya. Dugaan kian kuat setelah Aliansi Jurnalis Independen Cabang Surabaya menelusuri kasus ini pada awal Mei. Setengah bulan berselang, puluhan wartawan menggelar aksi keprihatinan di Probolinggo untuk memproses pembunuhan Heri.

Rupanya, polisi memiliki kesimpulan serupa. Penyidik mengkaji semua berita yang ditulis Heri. Tempo menemukan tulisan terakhir Heri di tabloid Delta Post Sidoarjo, edisi 43 tanggal 1-7 Mei 2006. Judulnya, ”Terkait Menjual Air Bersih Desa Pedagangan, BPD Akan Melaporkan Kepala Desa”. Namun polisi tak menemukan kaitan antara tokoh yang disebut dalam tulisan dan kematian si penulisnya.

Kendati demikian, polisi memiliki petunjuk lain berupa keterangan saksi di tempat kejadian perkara. ”Ada warga berpapasan dengan tersangka di dekat lokasi jenazah ditemukan,” kata Nana. Di antaranya ada saksi yang menyebut nama Slamet. Ciri-cirinya, bertubuh kecil, kulit cokelat, rambut lurus potong pendek. Kriteria ini klop dengan rupa Slamet.

Slamet pun tak berkutik ketika dihadapkan dengan saksi ini. Dia mengenali Slamet yang bersua dengannya di dekat jenazah Heri. ”Benar, Pak, saya yang membunuhnya,” kata Slamet ketika Tempo mengkonfirmasi tuduhan polisi.

Menurut Slamet, dia membunuh korban bersama tujuh orang lain. Dua di antaranya adalah rekan sekampungnya di Desa Alun-alun. Masing-masing Nipa Cipanjar, 27 tahun, dan Su`id, 50 tahun. Polisi sudah menjemput dua tersangka ini sehari setelah menangkap Slamet.

Polisi kini mencari empat tersangka yang tersisa. Salah satunya Abdul Basyir, Ketua Lembaga Ketahanan Desa Rejing, Kecamatan Tiris, Probolinggo. ”Dia yang menyuruh kami membunuh. Kami dibayar Rp 1 juta per orang,” kata Slamet.

Menurut Nana Sudjana, pembunuhan itu berkaitan dengan pekerjaan jurnalistik. Sebelum tewas, korban meliput jembatan baru yang sudah rusak di Desa Rijing. Hasil liputan Heri, ada indikasi penggelembungan harga di dalam proyek desa senilai Rp 120 juta itu. ”Abdul Basyir sakit hati karena dia pimpinan proyek,” Nana menjelaskan.

Tempo tak menemukan arsip berita ini. Ternyata, menurut sejumlah wartawan di Probolinggo, Heri memang tidak menulis berita tersebut di medianya. Dia hanya menawarkannya ke wartawan harian Radar Bromo, Suara Indonesia, dan Memorandum. Ketiga media ini terbit di Probolinggo. ”Tapi tak ada yang mau,” ujar Richard de Mas Nre, wartawan Memorandum.

Menurut Nana, dua pekan setelah liputan, Abdul Basyir menghubungi Slamet dan lima temannya untuk membunuh Heri. Semula Basyir merencanakan mengeksekusi si wartawan di rumahnya. Belakangan dia memindahkan lokasi ke hutan jati.

Siang hari sebelum beraksi, Basyir menghubungi telepon seluler Heri. ”Dia mengajaknya bertemu di hutan jati seusai salat magrib,” kata Nana. Lokasi hutan jati itu berjarak 20 kilometer arah timur Kota Probolinggo. Warga juga memanfaatkan hutan itu sebagai jalan pintas yang menghubungkan Desa Tarokan dan Desa Tulupari.

Sesuai dengan jadwal yang disepakati, Heri muncul dengan sepeda motornya di hutan jati. Begitu bersua dengan Basyir, dia berhenti. Saat itulah, Sla-met dan Basyir membacoknya. Tiga ter-sangka lain ikut menebaskan parang. Sedangkan Su’id dan Nipa mengawasi lalu-lalang orang melintas.

Seusai membunuh, Abdul Basyir bersama Slamet kabur berboncengan sepeda motor. Tersangka lain naik angkutan umum. Saat kabur, Basyir dan Slamet bersua dengan serombongan warga Desa Tulupari yang hendak menonton pasar malam di Pabrik Gula Gending. Mereka ini pula yang menemukan jenazah Heri.

Keterangan serombongan warga itu yang kemudian menjadi pegangan polisi. ”Tetapi kami tak langsung menangkap karena keterangan saksi masih kurang dalam,” kata Nana. Setelah Slamet didakwa terlibat dalam pencurian sapi, barulah kasus pembunuhan wartawan ini terungkap jelas. Samiudiana, 35 tahun, istri Heri, bersyukur karena polisi menangkap pembunuh suaminya. ”Saya harap mereka dihukum,” kata ibu dua anak ini kepada Tempo.

Tragedi Heri ini tercatat sebagai kasus pembunuhan wartawan yang paling cepat diungkap polisi—setidaknya dalam 10 tahun terakhir. Ada juga pembunuh wartawan yang hingga kini masih terus menghirup udara bebas: pembegal nyawa Muhammad Syafrudin alias Udin, wartawan Bernas yang dibunuh di Yogyakarta pada Agustus 1996.

Nurlis E. Meuko, Bibin Bintariadi (Probolinggo)


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: