Aliansi Jurnalis Independen


AJI: Apa Artinya Gambar Bagus Kalau Harus Tewas
February 25, 2007, 11:28 am
Filed under: Berita

http://www.beritajatim.com
Minggu, 25/02/2007 18:02 WIB
Reporter : Hari Tri Warsono

Kediri – Kasus tenggelamnya jurnalis saat melakukan tugas peliputan di atas bangkai KM Levina I yang terbakar merupakan pelajaran bagi pekerja pers. Ini menunjukkan buruknya standar keamanan jurnalis saat melakukan peliputan.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, Iman D Nugraha mengatakan, musibah yang menimpa reporter dan kameramen SCTV, RCTI, Metro TV, Lativi dan seorang reporter radio, Minggu (25/2/2007), cukup menjadi pelajaran bagi para pekerja pers dalam melakukan peliputan.

Menurut Iman, sudah bukan saatnya lagi seorang jurnalis mempertaruhkan keselamatannya sendiri hanya untuk mengejar eklusivitas berita. Apalagi hal itu dilakukan di tengah buruknya perhatian dan reward dari perusahaan yang menaunginya.

“Ini merupakan kekonyolan. Sudah bukan saatnya seorang jurnalis memburu berita dengan mengabaikan keselamatannya sendiri. Apa artinya mendapatkan berita dan gambar bagus kalau wartawannya sendiri akhirnya meninggal,” ujar Iman kepada beritajatim.com saat berkunjung ke Sekretariat AJI Kediri, Minggu (25/2/2007).

Ia menjelaskan, seharusnya kelima jurnalis itu bisa mengukur keselamatannya sendiri saat hendak mengambil gambar di bangkai KM Levina I bersama tim KNKT yang akan melakukan olah TKP.

Setidaknya mereka melengkapi dengan baju pelampung atau memenuhi prosedur keselamatan sebelum melakukan aktivitas peliputan. Apalagi kapal tersebut dalam keadaan rusak berat dan cukup membahayakan bagi siapapun yang berada di atasnya.

Hal senada disampaikan Ketua AJI Kediri, Dwijo Utomo Maksum. Menurutnya, sikap perusahaan media yang cenderung menekan jurnalisnya untuk memperoleh gambar dan laporan yang bagus, memicu mereka untuk tidak memperhatikan keselamatannya sendiri. Seharusnya mereka melarang jurnalisnya untuk mendekat apalagi memasuki area KM Levina yang masih dalam tahap penyelidikan.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa sifat pemilik media yang terlalu kompetitif akan memicu pekerjanya melakukan peliputan secara membabi-buta. Padahal penghargaan yang mereka berikan kepada pekerja sangat kecil,” tegas Dwijo.

Karena itu, musibah ini akan menjadi pelajaran berharga bagi pekerja pers, pemilik media dan aparat keamanan untuk lebih berhati-hati dalam melakukan tugasnya. Jika semua pihak bisa bersikap profesional dan saling menghargai, niscaya musibah itu tidak akan terjadi.[har/gus]


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: