Aliansi Jurnalis Independen


Wartawan, Antara Idealisme dan Risiko, Demi Hak Publik, Abaikan Keselamatan Pribadi
February 28, 2007, 1:09 pm
Filed under: Kliping

Wednesday, 28 February 2007

Jakarta – Topik mengenai keselamatan wartawan kembali jadi sorotan. Ini setelah dua juru kamera televisi menjadi korban saat meliput bangkai kapal Levina I di perairan Muara Gembong, Bekasi, Jabar, 25 Februari 2007.

Dengan tidak mengurangi rasa duka mendalam, peristiwa tenggelamnya KM Levina I sejauh ini belum terbukti ada unsur kesengajaan dari pihak lain. Tidak juga karena pengaruh berita yang dilaporkan sebelumnya.

Unsur pengabaian terhadap keselamatan diri lebih dominan di situ. Juru kamera SCTV, Muhammad Guntur Syaifullah maupun Suherman dari Lativi, misalnya, diketahui tidak bisa berenang tapi tidak memakai pelampung.

Mendiang Guntur bahkan dikisahkan tetap mempertahankan kameranya ketika nyaris tenggelam, sementara rekan-rekannya sudah meneriaki supaya membuang saja piranti mahal itu.
Ajal memang bisa datang sewaktu-waktu dengan aneka cara. Tapi, ketika menyadari masuk lingkungan berbahaya, sewajarnya setiap orang waspada.

Dan, profesi wartawan, untuk bidang liputan tertentu, termasuk yang sering bersinggungan dengan lingkungan berbahaya. Namun, demi profesionalisme, mereka kerap mengabaikan.
Ada banyak contoh kisahnya.

Mulai dari kasus tewasnya Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, wartawan Harian Bernas, Jogjakarta, Agustus 1996 silam. Ia jadi martir perjuangan sipil melawan kebrengsekan Orde Baru.
Berselang tujuh tahun kemudian, reporter RCTI Sory Ersa Siregar disandera tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) hingga tertembak mati saat kelompok itu kontak senjata dengan TNI, 29 Desember 2003.

“Wartawan profesional itu memang selalu terpanggil memenuhi hak rakyat untuk tahu. Tapi, ketika menjalankan tugasnya, wartawan juga harus bisa menjaga diri,” kata Wakil Ketua Dewan Pers, Leo Batubara, Senin (26/2).

Menurut dia, dalam kasus Levina I, hak rakyat untuk tahu yang perlu dijawab wartawan adalah penyebab terbakarnya kapal tersebut. “Itu kan masih misterius,” katanya.

Ia menilai, kesadaran wartawan dalam hal menjaga diri, pada umumnya masih rendah. Ini bukan saja di wilayah konflik atau perang tapi bahkan dalam keadaan aman. Leo menyebut penggunaan pelampung merupakan standar keselamatan di perairan manapun. Kendati demikian, Leo tidak menyalahkan hal itu sepenuhnya pada diri wartawan.

Anggota Dewan Pers dua periode yang mewakili unsur pengusaha media itu juga menilai perusahaan media harus memberikan pelatihan keselamatan bagi para wartawannya. “Apalagi media yang mengirimkan wartawannya ke daerah konflik. Harus siap siaga mulai dari pelatihan sampai asuransinya,” katanya. Mengenai tanggungjawab perusahaan media, Leo mengakui hal itu sedang dibahas dalam rapat kerja pertama
Dewan Pers di Bogor, setelah keanggotaan lembaga ini diteken Presiden Susilo, 5 Februari 2007 lalu.

“Lewat rapat kerja di Bogor ini, kami akan membuat seruan kepada semua media supaya memberikan pelatihan keselamatan bagi wartawan,” urainya. Jauh sebelum Dewan Pers berencana memperhatikan masalah ini, Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) sudah melakukan lewat program nyata.

Bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI), IFJ menggelar pelatihan keselamatan jurnalis di Puncak Bogor, Januari lalu. Juga di tiga kota lain mulai dari Denpasar, Kendari sampai Padang. Menurut koordinator IFJ untuk Asia Tenggara, Lensi Mursida, rendahnya kesadaran para jurnalis untuk menjaga diri bukan hanya fenomena Indonesia. “Di seluruh dunia sebagian besar wartawan belum sadar terhadap keselamatan pribadinya,” beber Lensi.

Jan C Lepeltak, koresponden Jakarta untuk koran berpengaruh di Belanda, De Telegraaf, juga mengakui hal ini. “Saya sudah 1,5 tahun bekerja untuk De Telegraaf tapi belum mendapat training keselamatan,” kata Jan, kemarin.

Menurut Lensi, IFJ mulai berkampanye serius mengenai isu keselamatan jurnalis ini setidaknya sejak 2003 silam. Ia yakin, rendahnya kesadaran soal keselamatan itu bukan hanya pada level jurnalis tapi juga perusahaan media. Itu sebabnya, saat pelatihan Januari lalu, IFJ mendatangkan seorang bekas anggota pasukan khusus dari Sidney, Australia untuk melatih para jurnalis. Pelatih itu bekerja buat AKE Group, satu perusahaan bidang manajemen risiko politik dan keamanan yang berbasis di Inggris.

Namun ongkos sewa pelatih semacam ini tentu saja mahal. “Saya tidak tahu persis besarnya tapi saya kira agak mahal karena lembaga media mapan dunia seperti BBC, CNN dan NHK juga pakai ini,” ujar Lensi yang berdomisili di Jakarta ini.

Dia menuturkan, lewat pelatihan itu, para peserta diajari bersiaga terhadap kemungkinan terburuk, latihan P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan), menangani patah tulang dan pendarahan.

Selain itu juga dilatih mengenali ranjau dan perangkap, cara bertahan dalam kerusuhan massa, bertahan ketika disandera, menghadapi hewan berbisa sampai mempelajari dasar-dasar navigasi. “Rasanya belum ada perusahaan media di Indonesia yang memberikan pelatihan seperti itu,” pungkasnya.

http://www.surya.co.id/


3 Comments so far
Leave a comment

Good site!!!

Comment by ythuz

i’m agree too..

Comment by neo liberalism

Well Done

Comment by a DiT




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: