Aliansi Jurnalis Independen


AJI Medan soal Penahanan Wartawan Bisnis Medan
April 10, 2007, 12:44 pm
Filed under: Pernyataan Sikap

PERNYATAAN SIKAP AJI MEDAN

No : 025/B/AJI-Mdn/V/April/07
Hal :  Surat Kecaman Atas Pemenjaraan Wartawan Medan Bisnis di Pematangsiantar

Kasus kekerasan yang menimpa Pers  di Sumatera Utara sudah memasuki tahap yang memprihatinkan. Kekerasan baik fisik dan non fisik hingga pemenjaraan wartawan membayangi profesi jurnalis sebagai pilar keempat demorasi.

Ironisnya, kasus-kasus kekerasan terhadap pers di Sumatera Utara justu dilakukan oleh pejabat daerah maupun institusi militer/polisi. Padahal, tugas dan fungsi Pers dilindungi oleh Undang-Undang Pers No 40 Tahun 1999.

Kasus penahanan Samsuddin Harahap, Wartawan Medan yang bertugas di Pematangsiantar merupakan contoh dari arogansi pejabat daerah yang alergi atas pemberitaan-pemberitaan kritis yang dilakukan wartawan.

Hasil investigasi AJI Medan menunjukkan bahwa, pemenjaraan Samsuddin Harahap  yang sudah memasuki hari ke -21 (sejak ditahan 22 Maret 2007) tanpa didasari landasan hukum yang kuat. Diduga kuat pemenjaraan Samsuddin karena adanya tekanan dari Walikota Pematangsiantar, Dandim 0207 Simalungun dan Polres Pematangsiantar.

AJI menilai penahanan Samsudin Harahap merupakan upaya pejabat terkait untuk membungkam kemerdekaan Pers sebagaimana diatur dalam pasal 18 ayat 1 UU Pers No 40 tahun 1999.

Perlu kami ingatkan bahwa pasal 18 Ayat 1 disebutkan: Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan kerja jurnalis sebagaimana ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3), dipidana penjara paling lama dua (dua) tahun atau denda paling banyak Rp 500.000.000 ( lima ratus juta rupiah).

Untuk itu, AJI Medan  menyatakan sikap:
1. Mengecam Polres Pematangsiantar yang melakukan pemenjaraan terhadap wartawan Medan Bisnis,Samsuddin Harahap tanpa dasar hukum yang kuat sejak 22 Maret 2007.
2. Meminta Kapolres Pematangsiantar secara transparan menuntaskan kasus penahanan wartawan Medan Bisnis.
3. Mengecam Polres Pematangsiantar yang berlaku diskriminatif dengan menolak laporan pengaduan Samsuddin.
4. Mendesak Polres setempat untuk membebaskan Samsuddin dalam tempo 2x 24 jam. Bila tidak dipenuhi, AJI akan menempuh jalur hukum.
5. Meminta agar Harian Medan Bisnis sebagai media tempat Samsuddin bekerja untuk menempuh jalur hukum.
6. Mendesak Kapolri/Kapolda untuk ikut menyelidiki kasus penahanan Samsuddin Harahap, bila perlu menindak Kapolres Pematangsiantar bila tidak ditemukan unsur kuat penahanan tersebut.
7. Mendesak Panglima TNI AD/Pangdam Bukit Barisan untuk ikut menyelidiki kasus penahanan Samsuddin Harahap atas pengaduan anggotanya, Serma E Damanik yang bertugas di Kodim 0207 Simalungun.
8. Meminta pertanggungjawaban Walikota Pematang Siantar atas kasus penahanan Samsuddin Harahap karena keberadaan Samsuddin ke rumah dinas walikota untuk memenuhi undangan beliau.
9. Meminta kepada seluruh wartawan dan media massa di Medan untuk bersatu melawan kekerasan dan menjunjung tinggi profesionalisme dengan berpedoman pada Kode Etik Wartawan Indonesia (KEJ) dan UU Pers No 40 tahun 1999
10. Meminta kepada masyarakat untuk menghargai kerja-kerja jurnalistik dalam menjalankan tugasnya.

Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan. Semoga tidak ada lagi kasus- kasus kekerasan terhadap Pers!

Hormat Kami,
AJI Medan

Medan, 10 April 2007

Dedy Ardiansyah
Ketua

Rika Yoes
Sekretaris

Tembusan:
1. Presiden RI di Jakarta
2. Wakil Presiden RI di Jakarta
3. Kapolri di Jakarta
4. Panglima TNI AD di Jakarta
5. Dewan Pers di Jakarta
6. AJI Indonesia di Jakarta
7. Kapolda di Sumatera Utara
8. Pangdam I Bukit Barisan di Sumut
9. PWI Sumut di Medan
10. Kapolres Pematangsiantar di Pematangsiantar
11. Walikota Pematangsiantar di Pematangsiantar
12. Dandim 0207/BS Simalungun di Pematangsiantar
13. Lembaga Pers di Medan
14. Media massa cetak dan elektronik di Medan
15. arsip

Kronologis Kejadian:
Kamis, 22 Maret 2007 sekira pukul 12.00 Wib, Samsudin Harahap ditahan pihak Polresta Pematangsiantar karena pengaduan Serma E Damanik, anggota Kodim 0207 Simalungun yang bertugas menjaga rumah dinas walikota. Dalam pengaduannya, Serma Damanik mengaku dipukul/dianiaya oleh Samsudin Harahap.

Dari hasil inventarisasi kasus yang dilakukan AJI sejak 11- 15 April lalu, sejumlah keterangan berhasil diperoleh. Hipotesa sementara yang diperoleh dari sejumlah saksi (termasuk Samsuddin Harahap sebagai saksi korban) ditahanan Polres Pematangsiantar menyimpulkan, bahwa Samsuddin merupakan korban dari sebuah konspirasi yang melibatkan Walikota Pematangsiantar, Dandim 0207 Simalungun dan Polres Pematangsiantar.

Kronologis kejadian bermula pada Rabu malam 21 Maret 2007, sekira pukul 23.30 Wib saat Samsudin Harahap menerobos masuk ke rumah dinas walikota. Tujuan, ia hendak mengkonfirasikan aksi demo besar-besaran seribuan masyarakat yang berlangsung pada siang harinya di depan kantor walikota yang mengkritisi sejumlah kebijakan walikota.

Samsuddin saat itu bertemu langsung dengan walikota. Namun  RE Siahaan enggan diwawancarai. Malah menurut pengakuan Samsuddin, Walikota sempat kaget dan mempertanyakan siapa yang memberi izin Samsuddin masuk menemuinya. Walikota kemudian menegur petugas dari Satpol PP yang berjaga malam.

Selang beberapa menit kemudian,  Samsudin Harahap berniat meninggalkan rumah dinas, namun beberapa orang aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di pos penjagaan menghentikan Samsudin Harahap dan melarang dirinya pergi. Karena merasa kecolongan, sempat terjadi adu mulut antara Samsuddin dengan petugas Satpol PP di pos jaga tersebut. Namun dapat dilerai oleh Hotman Siahaan, seorang oknum PNS yang dikenal sebagai kepala terminal Tanjung Pinggir, Pematangsiantar. Ia meminta agar personil Satpol PP melepaskan Samsudin Harahap untuk meninggalkan rumah dinas.

Namun berkisar satu jam kemudian sekira pukul 00.30 Wib Kamis dini hari, Samsudin Harahap yang berada di sekitar lokasi Siantar Hotel ditemui kembali oleh Hotman Siahaan. Ia menyampaikan pesan bahwa walikota ingin bertemu Samsuddin pada dinihari itu juga.

Dengan menumpang mobil kijang warna hijau, Samsuddin dibawa kembali ke rumah dinas walikota. Sepeda motornya sendiri di titip kepada pemilik warung. Dalam perjalanan ia sempat menghubungi tiga orang wartawan lainnya, Fandho Girsang (Harian Pena Rakyat), Pandapotan Siallagan dan Leo Sihotang (keduanya wartawan Harian Metro Siantar/ Grup Jawa Pos).

Sesampainya di rumah dinas walikota, Samsudin Harahap ditinggal di pos jaga rumah dinas tersebut. Sementara Hotman Siahaan masuk menuju rumah dinas walikota.

Saat berada di pos jaga itu, kembali terjadi adu mulut antara Samsudin Harahap dengan beberapa petugas di pos jaga itu. Di situ ada, Serma E Damanik anggota Kodim 0207/BS Simalungung  berpakaian sipil dan kepala Kantor Satpol PP Pemkot Siantar, Robert Samosir.

Keduanya kemudian memaksa Samsudin Harahap keluar dari rumah dinas. Namun Samsudin menolak dan tetap bersikeras menunggu Hotman Siahaan yang membawa dirinya. Saat itulah terjadi pemukulan terhadap Samsudin Harahap yang dilakukan oknum militer tersebut hingga Samsudin Harahap terjatuh dan mengalami memar di bagian wajah, perut dan luka gugus di tangan sebelah kiri. Merasa terdesak dan terancam Samsudin kemudian membalas dan memukul wajah petugas. Peristiwa ini kemudian disaksikan oleh tiga wartawan  yang sudah berada di lokasi kejadian.

Tak lama kemudian beberapa orang anggota polisi dari Polresta datang dan membawa Samsudin Harahap ke Mapolresta Pematangsiantar. Sejak itulah Samsudin Harahap ditahan Polresta.

Selama ditahan, Samsuddin tidak diperkenankan untuk melaporkan balik kasus tersebut. Alasan pihak polres, karena kasus tersebut akan berujung damai. Namun damai yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang hingga. Sampai saat ini, masa penahanan Samsuddin sudah memasuki hari ke 21.

Kamis 11 April lalu, bersama Pemred Medan Bisnis dan Redpel Medan Bisnis mengungjungi Samsuddin Harahap di sel tahanan Polres Siantar. Bersamaan dengan itu, pada sore dan malam harinya, pihak Serma E Damanik, mencoba menawarkan  perdamaian kepada Samsuddin.

Proses perdamaian ini sempat berjalan alot. Kedua belah pihak berkali-kali menemukan kata sepakat. Persoalannya, dari tiga butir konsep konsep perdamaian yang diajukan pihak Serma E Damanik, salah satunya memasukkan  unsur penganiyaan, di mana Samsuddin sebagai pelaku, dan Serma E Damanik menjadi korbannya. Namun baik Samsuddin maupun kuasa hukumnya, Netty Simbolon SH dari LBH Siantar menolak adanya pencantuman kalimat penganiyaan tersebut.  Hingga saat ini pun Samsuddin masih berada dibalik terali besi.


1 Comment so far
Leave a comment

mari kita berantas dan perangi pembunuhan karekter insan pers

Comment by yogi boetar




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: