Aliansi Jurnalis Independen


Media Jangan Pentingkan Untung Semata
May 2, 2007, 5:26 pm
Filed under: Berita

JAKARTA, KOMPAS–Sebagai pilar keempat dalam demokrasi, pers yang bebas memiliki peranan penting untuk memelihara kehidupan yang demokratis. Saat proses demokratisasi buntu, pers mampu menggerakkan dan memberi arah bagi demokrasi yang dilaksanakan.

”Masalahnya, jika pers sudah dikontrol oleh kepentingan perusahaan maka yang terjadi bukanlah pers yang bebas lagi tetapi pers yang dikontrol kekuatan korporasi,” tegas mantan Ketua Mejelis Permusyawaratan Rakyat Amien Rais saat menjadi pembicara kunci dalam penganugerahan Press Freedom Award (PFA) 2007 di Jakarta, Rabu (2/5).

PFA 2007 dimenangi oleh Deputi Direktur Yayasan Sains, Estetika, dan Teknologi Agus Sudibyo. Kolumnis pada sejumlah media ini dinilai aktif memperjuangkan kebebasan pers dan hak publik untuk memperoleh informasi. Penghargaan ini baru pertama kali diberikan Aliansi Jurnalis Independen untuk menghargai upaya jurnalis dan penulis mengembangkan kebebasan pers melalui tulisan dan aktivitasnya.

Menurut Amien, untuk mempertahankan independensi media di era global sangat sulit. Kepentingan modal, politik, dan politik modal secara terbuka maupun terselubung sangat mempengaruhi kebijakan media. Padahal, media memiliki peran besar dalam mempengaruhi politik negara.

”Mereka (media) bisa mengarahkan siapa pejabat yang layak dipertahankan atau harus diganti. Namun, korporasi media jangan tebang pilih dalam memunculkan isu terkait kepentingan korporasinya,” ungkapnya.

Amien menilai ada kekuatan lain yang membuat kebebasan pers dapat dikendalikan. Karena itu, para pejuang kebebasan pers akan selalu berhadapan dengan berbagai kepentingan, baik negara maupun ekonomi.

”Dalam era korporasi global, media harus hati-hati agar tidak menjadi korporasi media yang lebih mementingkan profit daripada membela kepentingan rakyat,” tambahnya.

Sementara itu, anggota Dewan Pers Bambang Harymurti menyebutkan peringkat Indonesia dalam kebebasan pers semakin menurun. Pada 2002, Indonesia berada pada posisi 57 dari 139 negara. Namun pada 2005, peringkat Indonesia merosot hingga posisi 102 dari 167 negara.

Di Asia Tenggara, posisi kebebasan pers Indonesia pada 2005 hanya pada peringkat ketiga. Padahal pada 2002, Indonesia berada dalam posisi pertama.

”2007 ini sudah mulai ada perbaikan beberapa tingkat, tapi tetap termasuk sepertiga kelompok terendah dalam kebebasan pers,” ujar Bambang. (MZW)

Rabu, 02 Mei 2007 – 20:13 wib
http://www.kompas.com


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: