Aliansi Jurnalis Independen


Demo Diam Memperingati Hari Kebebasan Pers Dunia
May 3, 2007, 6:21 pm
Filed under: Berita

TEMPO Interaktif, Surabaya:Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya membentangkan spanduk memperingati Hari Kebebasan Pers Dunia di persimpangan Jalan Pemuda Surabaya, Kamis (3/5). Aksi melibatkan sekitar 50 jurnalis ini untuk mengekspresikan masih banyaknya ancaman terhadap kebebasan pers di dunia dan di Indonesia.

Aksi ini dimulai dari depan Gedung DPRD Surabaya. Dari sana, peserta aksi berjalan kaki sejauh 100 meter sembari membentangkan spanduk bertuliskan “Jangan Bunuh Kebebasan Pers”. Empat jurnalis mengenakan penutup kepala dari kertas koran. Ada tulisan yang mencerminkan pilar pers di penutup kepala itu, yakni kebebasan informasi, kesejahteraan jurnalis dan profesionalisme.

Ketua AJI Surabaya, Iman Dwianto Nugroho, mengatakan tindak kekerasan masih menjadi ancaman jurnalis Indonesia. Mengutip catatan AJI Indonesia, selama setahun terakhir, terjadi 53 kasus kekerasan terhadap jurnalis dan media. Dalam dua tahun terakhir, sebanyak 107 kekerasan menimpa jurnalis dan media. “Kekerasan terhadap jurnalis adalah ancaman terhadap kebebasan pers,” katanya.

AJI Surabaya juga mencatat sejumlah kekerasan di Jawa Timur, misalnya pemukulan terhadap jurnalis TPI Andreas dan Sandi Irwanto saat meliputi demonstrasi di Kampus UPN Veteran Surabaya. Kekerasan juga terjadi saat jurnalis melakukan liputan di lokasi semburan lumpur liar Lapindo Brantas Inc oleh petugas keamaan yang disewa Lapindo.

Selain itu, kata Iman, kriminalisasi terhadap karya jurnalisitik juga masih tinggi. Mulai 2003 hingga April 2007 ini, terdapat 41 kasus menimpa karya jurnalistik dengan tudingan melakukan pencemaran nama baik. Dari jumlah itu, hanya enam kasus atau 14 persen yang diselesaikan menggunakan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Karena itu, AJI Surabaya mendesak agar aparat penegak hukum tidak legi memidanakan jurnalis dan media massa karena karya jurnalistiknya. Ia juga minta semua pihak menggunakan UU No. 40 tahun 1999 jika menghadapi sengketa pers. “Teman-teman jurnalis dan media massa juga harus terus meningkatkan profesionalisme dan menegakkan kode etik jurnalisitik, ” katanya.

Sunudyantoro
Kamis, 03 Mei 2007 | 10:30 WIB


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: